Sofiainur's Blog

Filsafat Thomas Aquinas

Posted on: April 1, 2010

ST. THOMAS AQUINAS (1225-1274)

            Thomas Aquinas (1225, Aquino, Italia – Fossanova, Italia, 7 Maret1274), kadangkala juga disebut Thomas dari Aquino (bahasa Italia: Tommaso d’Aquino) adalah seorang filsuf dan ahli teologi ternama dari Italia. Ia terutama menjadi terkenal karena dapat membuat sintesis dari filsafat Aristoteles dan ajaran Gereja Kristen. Sintesisnya ini termuat dalam karya utamanya: Summa Theologiae (1273). Ia disebut sebagai “Ahli teologi utama orang Kristen.” Bahkan ia dianggap sebagai orang suci oleh Gereja Katholik dan memiliki gelar santo.
            Aquinas merupakan teolog skolastik yang terbesar. Ia adalah murid Albertus Magnus. Albertus mengajarkan kepadanya filsafat Aristoteles sehingga ia sangat mahir dalam filsafat itu. Pandangan-pandangan filsafat Aristoteles diselaraskannya dengan pandangan-pandangan Alkitab. Ialah yang sangat berhasil menyelaraskan keduanya sehingga filsafat Aristoteles tidak menjadi unsur yang berbahaya bagi iman Kristen. Pada tahun 1879, ajaran-ajarannya dijadikan sebagai ajaran yang sah dalam Gereja Katolik Roma oleh Paus Leo XIII.
            Thomas dilahirkan di Roccasecca, dekat Aquino, Italia tahun 1225. Ayahnya ialah Pangeran Landulf dari Aquino. Orang tuanya adalah orang Kristen Katolik yang saleh. Itulah sebabnya Thomas, pada umur lima tahun diserahkan ke biara Benedictus di Monte Cassino untuk dibina agar kelak menjadi seorang biarawan. Setelah sepuluh tahun Thomas berada di Monte Cassino, ia dipindahkan ke Naples untuk menyelesaikan pendidikan bahasanya. Selama di sana, ia mulai tertarik kepada pekerjaan kerasulan gereja, dan ia berusaha untuk pindah ke Ordo Dominikan, suatu ordo yang sangat berperanan pada abad itu. Keinginannya tidak direstui oleh orang tuanya sehingga ia harus tinggal di Roccasecca setahun lebih lamanya. Namun, tekadnya sudah bulat sehingga orang tuanya menyerah kepada keinginan anaknya. Pada tahun 1245, Thomas resmi menjadi anggota Ordo Dominikan.
            Sebagai anggota Ordo Dominikan, Thomas dikirim belajar pada Universitas Paris, sebuah universitas yang sangat terkemuka pada masa itu. Ia belajar di sana selama tiga tahun (1245 – 1248). Di sinilah ia berkenalan dengan Albertus Magnus yang memperkenalkan filsafat Aristoteles kepadanya. Ia menemani Albertus Magnus memberikan kuliah di Studium Generale di Cologne, Perancis, pada tahun 1248 – 1252. Pada tahun 1252, ia kembali ke Paris dan mulai memberi kuliah Biblika (1252-1254) dan Sentences, karangan Petrus Abelardus (1254-1256) di Konven St. Jacques, Paris. Kecakapan Thomas sangat terkenal sehingga ia ditugaskan untuk memberikan kuliah-kuliah dalam bidang filsafat dan teologia di beberapa kota di Italia, seperti di Anagni, Orvieto, Roma, dan Viterbo, selama sepuluh tahun lamanya. Pada tahun 1269, Thomas dipanggil kembali ke Paris. Ia hanya tiga tahun berada di sana karena pada tahun 1272 ia ditugaskan untuk membuka sebuah sekolah Dominikan di Naples.
            Dalam perjalanan menuju ke Konsili Lyons, tiba-tiba Thomas sakit dan meninggal di biara Fossanuova, 7 Maret1274. Paus Yohanes XXII mengangkat Thomas sebagai orang kudus pada tahun 1323. Thomas mengajarkan Allah sebagai “ada yang tak terbatas” (ipsum esse subsistens). Allah adalah “dzat yang tertinggi”, yang memunyai keadaan yang paling tinggi. Allah adalah penggerak yang tidak bergerak. Tampak sekali pengaruh filsafat Aristoteles dalam pandangannya. Dunia ini dan hidup manusia terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati). “Tabiat kodrati bukan ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat,” demikian kata Thomas Aquinas. Mengenai manusia, Thomas mengajarkan bahwa pada mulanya manusia memunyai hidup kodrati yang sempurna dan diberi rahmat Allah. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, rahmat Allah (rahmat adikodrati) itu hilang dan tabiat kodrati manusia menjadi kurang sempurna. Manusia tidak dapat lagi memenuhi hukum kasih tanpa bantuan rahmat adikodrati. Rahmat adikodrati itu ditawarkan kepada manusia lewat gereja. Dengan bantuan rahmat adikodrati itu manusia dikuatkan untuk mengerjakan keselamatannya dan memungkinkan manusia dimenangkan oleh Kristus.
            Mengenai sakramen, ia berpendapat bahwa terdapat tujuh sakramen yang diperintahkan oleh Kristus, dan sakramen yang terpenting adalah Ekaristi (sacramentum sacramentorum). Rahmat adikodrati itu disalurkan kepada orang percaya lewat sakramen. Dengan menerima sakramen, orang mulai berjalan menuju kepada suatu kehidupan yang baru dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang menjadikan ia berkenan kepada Allah. Dengan demikian, rahmat adikodrati sangat penting karena manusia tidak bisa berbuat apa-apa yang baik tanpa rahmat yang dikaruniakan oleh Allah. Gereja dipandangnya sebagai lembaga keselamatan yang tidak dapat berbuat salah dalam ajarannya. Paus memiliki kuasa yang tertinggi dalam gereja dan Pauslah satu-satunya pengajar yang tertinggi dalam gereja. Karya teologis Thomas yang sangat terkenal adalah “Summa Contra Gentiles” dan “Summa Theologia“.

Thomas Aquinas

Filsafat Thomas Aquinas

 

FILSAFAT PENDIDIKAN

            Filsafat dan filosof berasal dari kata Yunani “philosophia” dan “philosophos”. Menurut bentuk kata, seorang philosphos adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sebagian lain mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran. Filsafat sering pula diartikan sebagai pandangan hidup. Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai peranan yang sangat besar. Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup itu menentukan arah dan tujuan proses pendidikan.
            Filsafat dan pendidikan memiliki hubungan yang erat, karena pada hakekatnya pendidikan adalah proses pewarisan dari nilai-nilai filsafat. Dalam pendidikan diperlukan bidang filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam masyarakatnya.
            Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran filosofis tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan persoalan masing-masing filosofis akan menggunakan teknik atau pendekatan yang berbeda, sehingga melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh latar belakang pribadi filosofis tersebut, pengaruh zaman, kondisi atau alam pikiran para filosofis. Dari perbedaan itu kemudian lahirlah aliran-aliran atau sistem filsafat.
            Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat sehingga aliran dalam filsafat pendidikan sekurang-kurangnya sebanyak filsafat itu sendiri. Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu Filsafat pendidikan “progresif” yang diidukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau dan filsafat pendidikan “ Konservatif”, yang didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius. Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme,dan sebagainya. Berikut aliran-aliran dalam filsafat pendidikan:
1. Filsafat Pendidikan Idealisme
2. Filsafat Pendidikan Realisme
3. Filsafat Pendidikan Materialisme
4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme
5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
6. Filsafat Pendidikan Progresivisme
7. Filsafat Pendidikan Esensialisme
8. Filsafat Pendidikan Perenialisme
9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme

ALIRAN FILSAFAT PERENIALISME

            Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.
            Perenialisme merupakan salah satu aliran dalam filsafat pendidikan yang lahir pada abad keduapuluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi atau kekal atau bersifat lestari. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang perubahan atau sesuatu yang baru yang diciptakan dari pandangangan progresivisme.
Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultural. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut dengan melihat nilai-nilai atau prinsip yang telah dijalankan pada masa lampau.
            Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal. ( dalam http://blog.persimpangan.com/blog/2007/09/27/filafat-perenialisme/)
            Dengan kesemrawutan atau adanya kemerosotan kebudayaan pada zaman modern ini maka perenialisme memandang perlu kembali ke zaman dulu dimana prinsip atau nilai-nilai yang telah teruji dapat dikembangkan atau dapat menyelamatkan ketidakberesan pada zaman sekarang ini.
Perenialisme memandang pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
            Dengan kata lain pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau, karena dengan mengembalikan keadaan masa lampau ini, kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang.

Tokoh-tokoh Perenialisme
           
Perenialisme lahir akibat menentang aliran progresivisme. Tokoh-tokoh aliran perenialisme adalah sebagai berikut :
Aristoteles
            Aristoteles (384-322 SM) adalah murid Plato, namun dalam pemikirannya ia mereaksi terhadap filsafat gurunya, yaitu idealisme. Hasil pemikirannya disebut filsafat realisme. Ia mengajarkan cara berpikir atas prinsip realistis, yang lebih dekat pada alam kehidupan manusia sehari-hari. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan social. Sebagai makhluk rohani, manusia sadar ia akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia ideal. Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat mencapainya. Ia menganggap penting pula pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral. Aristoteles juga menganggap kebahagiaan sebagai tujuan dari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat, totalitas. Aspek-aspek jasmaniah, emosi, dan intelek sama dikembangkan, walaupun ia mengakui bahwa kebahagiaan tertinggi ialah kehidupan berpikir(2:317).
Plato
            Plato (427-347 SM), hidup pada zaman kebudayaan yang sarat dengan ketidakpastian, yaitu fisafat sofisme. Ukuran kebenaran dan ukuran moral menurut sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral dan kebenaran, tergantung pada masing-masing individu. Plato berpandangan bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah karena telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya. Menurut Plato, dunia ideal, yang bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Manusia menemukan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral dengan menggunakan akal atau ratio. Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat adil sejahtera. Manusia yang terbaik adalah manusia yang hidup atas dasar prinsip idea mutlak, yaitu suatu prinsip mutlak yang menjadi sumber realitas semesta dan hakikat kebenaran abadi yang transcendental yang membimbing manusia untuk menemukan criteria moral, politik, dan social serta keadilan. Ide mutlak adalah Tuhan.

Thomas Aquinas
            Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugas untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata. Menurut J.Maritain, norma fundamental pendidikan adalah :
• Cinta kebenaran
• Cinta kebaikan dan keadilan
• Kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi
• Cinta kerjasama
            Kaum perenialis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakikat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah selam berabad-abad : jadi, gagasan-gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di setiap zaman. Selain itu, filsafat perenialis menekankan kemampuan-kemampuan berpikir rasional manusia sehingga membedakan mereka dengan binatang-binatang lain

Pandangan Perenialisme terhadap Pendidikan
           
Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Sehingga pendidikan menurut perenialisme sangatlah penting untuk bekal manusia sepanjang hayat atau persiapan untuk hidup. Pandangan perenialisme terhadap pendidikan adalah kembali ke masa lalu atau klasik. Menurut Hutchins (1953) sekalipun terdapat perbedaan lingkungan namun sifat hakiki manusia selalu sama sehingga semua orang memerlukan pendidikan yang sama (dalam Tim FIP UPIAli, Mohamad: 2007).Dengan kata lain bahwa system atau tujuan pendidikan untuk semua warga adalah relative sama. Yaitu untuk “meningkatkan harkat manusia sebagai manusia”
Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, orang akan mampu mengenal faktor-faktor dan akan memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk mengadakan penyelesaian masalahnya. Dengan demikian anak didik akan mempunyai dua keuntungan dalam belajar, yakni: Satu anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar. Dua mereka akan memikirkan peristiwa penting dan karya¬-karya para tokoh tersebut untuk diri sendiri dan sebagai reverensi zaman sekarang.
Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buah pikiran para ahli tersebut pada masa lampau, maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli terse¬but dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri, dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat pereni¬alisme tersebut.
Tugas utama pendidikan adalah mencerdaskan anak didik . Salah satu untuk mencerdaskan anak didik adalah dengan mempersiapkan diri anak mulai dasar. Persiapan dasar ini diperoleh dari pengetahuan tradisional seperti membaca, menulis dan berhitung.
Di samping mendapatkan pengetahuan dasar, anak didik juga diharapkan memiliki etika atau moral atau budi pekerti yang mulia yang sesuai dengan agama atau kepercayaan masing-masing. Dimana setiap agama akan memerintahkan hidup mulia, hidup dengan berprilaku baik terhadap sesama, masyarakat, guru maupun orang tua. Akan tetapi dewasa ini telah terjadi krisis moral yang luar biasa yang menyebabkan anak didik berjalan semaunya sendiri tanpa melihat dasar-dasar atau prinsip-prinsip moral yang berlandaskan ajaran agama masing-masing. Dengan melihat kondisi ini maka kita perlu belajar ke masa lalu dimana para anak didik dengan hormatnya dan penuh rasa tanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing. Prinsip inilah yang diinginkan oleh perenialisme.

Pandangan Ontologi Perenialisme
Ontologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individual, esensi, aksiden dan substansi. Perennialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini. Benda individual disini adalah benda sebagaimana nampak diha¬dapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera seperti batu, rumput, orang dalam bentuk ukuran, warna dan aktifitas tertentu.
Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. Adapun aksiden adalah keadaan-keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial, sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu.
Jadi segala yang ada di alam semesta ini seperti halnya manusia, batu bangunan dasar, hewan, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya mem¬pakan hal yang logis dalam karakternya. Setiap sesuatu yang ada, tidak hanya merupakan kambinasi antara zat atau benda tapi merupakan unsure potensialitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas.
Jadi dengan demikian bahwa segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi, bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu adalah tensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan, tidak jarang pula dimilikinya akal, perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu sendiri dan merupakan tujuan akhir.

Pandangan Epistemologis Perenialisme
Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian dan daya pikir dengan benda-benda. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah perhatian mengenai esensi dari sesuatu. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. Jelaslah bahwa penge¬tahuan itu inerupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen.
Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas, relatif atau kebenaran probability. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis, kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal, hakiki dan berjalan dengan hukum-hukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama, bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi

Pandangan Aksiologi Perenialisme
Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural, yakni menerima universal yang abadi. Dengan azas seperti itu, tidak hanya ontologi dan epistemologi yang didasarkan atas prinsip teologi dan supernatural, melainkan juga aksiologi. Khususnya dalam tingkah laku manusia, maka manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya, di samping itu adapula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik.
Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme, karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang abadi, khususnya tingkah laku manusia. Jadi hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah pada jiwanya. Oleh karena itulah hakekat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya, dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. Dalam aksiologi, prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku. Secara etika, tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang manusia, karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan.
Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya, seperti Plato, Aristoteles dan Thomas Aquinas. Menurut Plato, manusia secara kodrat memiliki tiga potensi yaitu nafsu, kemauan dan pikiran, Pendidikan hendaknya berorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat, agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan, Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah “kebahagiaan”. Untuk mencapai pendidikan itu, maka aspek jasmani, emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang.
Menurut perenialisme, pendidikan moral sekarang ini telah mengalami krisis yang luar biasa. Anak-anak sudah tidak ada lagi rasa takut terhadap guru maupun orang tua.kekerasan, kemalasan maupun sikap yang ingin serba instan telah mengalir dalam darah anak-anak sekarang ini. Dengan perenialisme yang kembali ke tradisional ingin menciptakan kembali rasa hormat, rasa segan baik pada guru, orang tua, maupun masyarakat sekitar. Sehingga moral atau budi pekerti anak didik akan tertata dengan baik.

Beberapa Pemikiran Filsafat Thomas Aquinas

1. Thomisme

Thomisme adalah pemikiran filsafat yang dikemukakan oleh Aquinas.

Sebagaimana umumnya ajaran Skolastik, Thomas Aquinas berusaha dengan

sungguh-sungguh untuk mendamaikan pemikiran filsafat yang sekuler dari

Yunani dengan agama Nasrani yang dianutnya. Oleh Thomas dibedakan dua

tingkat pengetahuan manusia. Pengetahuan tentang alam yang dikenal melalui

akal dan pengetahuan tentang rahasia Tuhan yang diterima oleh manusia lewat

wahyu atau kitab suci.

Pengertian-pengertian metafisis sebagian besar dipinjam dari Aristoteles.

Misalnya pengertian materi dan bentuk, potensi dan aktus, bakat dan

perealisasian. Pengertian-pengertian metafisis sebagian besar dipinjamnya dari

Aristoteles, seperti: pengertian materi dan bentuk, potensi dan aktus, bakat dan

perealisasian. Materi adalah asal muasal munculnya sesuatu. Atau dapat juga

disebut subyek pertama sebagai asal munculnya sesuatu. Bentuk terkandung

dalam materi, umpamanya asal muasal buah mangga: Buah Mangga berasal dari

biji mangga, lalu menjadi pohon mangga. Biji mangga adalah materinya atau

potensinya, sedang pohon mangga yang telah tumbuh itu adalah bentuknya, atau

aktusnya. Pada pohon mangga itu kita mengamati bahwa yang telah terkandung di

dalam biji sebagai materi telah direalisasikan sepenuhnya.

Pembedaan antara materi dan bentuk ini hanya terjadi pada benda-benda

dalam kenyataan, tidak pada pengertian tentang Allah. Thomas memakai

pengertian essentia (hakekat) dan existentia (eksistensi) bagi Allah.6

2. Essentia dan Existentia

Ajaran Thomas Aquinas yang terkenal diantaranya tentang essentia dan

existentia, yang dikaitkannya dengan Tuhan. Tuhan adalah aktus yang paling

6Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hlm. 106

5

umum, actus purus (aktus murni), artinya Tuhan sempurna keberadaannya, tidak

berkembang, karena pada Tuhan tiada potensi. Di dalam Tuhan segala sesuatu

telah sampai pada perealisasiannya yang sempurna. Tuhan adalah aktualitas

semata-mata, oleh karena itu pada Tuhan hakikat (essentia) dan keberadaan

(existentia) ada sama dan satu (identik). Hal ini tidak berlaku bagi makhluk.

Keberadaan makhluk adalah sesuatu yang ditambahkan pada hakikatnya.7

Filsafat Thomas erat kaitannya dengan teologia. Sekalipun demikian pada

dasarnya filsafatnya dapat dipandang sebagai suatu filsafat kodrati yang murni.,

sebab ia tahu benar akan tuntuan penelitian kebenaran, dan secara jujur mengakui

bahwa pengetahuan insani dapat diandalkan juga. Dia membela hak-hak akal dan

mempertahankan kebebasan akal dalam bidangnya sendiri. Wahyu menurutnya

berwibawa juga dalam bidangnya sendiri. Disamping memberi kebenaran

alamiah, wahyu juga memberi kebenaran yang adikodrati, memberi misteri atau

hal-hal yang bersifat rahasia, seperti: kebenaran tentang trinitas, inkarnasi,

sakramen dll. Untuk ini diperlukan iman. Iman adalah suatu cara tertentu guna

mencapai pengetahuan, yaitu pengetahuan yang mengatasi akal, pengetahuan

yang tidak dapat ditembus akal. Iman adalah suatu penerimaan atas dasar wibawa

Allah. Sekalipun misteri mengatasi akal, namun tidak bertentangan dengan akal,

tidak anti akal. Sekalipun akal tidak dapat menemukan misteri, akan tetapi akal

dapat meratakan jalan menuju kepada misteri (prae ambula fidei). Dengan

demikian, Thomas Aquinas menyimpulkan bahwa ada dua macam pengetahuan

yang tidak saling bertentangan, tetapi berdiri sendiri-sendiri secara berdampingan,

yaitu: pengetahuan alamiah, yang berpangkal pada akal yang terang serta

memiliki hal-hal yang bersifat insani umum sebagai sasarannya, dan pengetahuan

iman, yang berpangkal dari wahyu dan memiliki kebenaran ilahi, yang ada di

dalam Kitab Suci, sebagai sasarannya.

Perbedaan antara pengetahuan yang diperoleh melalui akal dan

pengetahuan iman itu menentukan hubungan antara filsafat dan teologia. Filsafat

bekerja atas dasar terang yang bersifat alamiah semata-mata, yang datang dari

7Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran Dalam Filsafat, Yogyakarta: 1988, hlm. 96

6

akal manusia. Oleh karena itu filsafat adalah ilmu pengetahuan insani yang

bersifat umum, yang hasil pemikirannya diterima oleh tiap orang yang berakal.

Akal membimbing manusia untuk mengenal kebenaran di kawasan alamiah,

sehingga manusia dapat naik dari hal-hal yang bersifat inderawi ke hal-hal yang

bersifat non-inderawi, naik dari hal-hal yang bersifat rohani, dari hal-hal yang

serba terbatas ke hal-hal yang tidak terbatas. Teologia sebaliknya memerlukan

wahyu, yang memberikan kebenaran-kebenaran yang mengatasi segala yang

bersifat alamiah karena teologia memiliki kebenaran-kebenaran ilahi sebagai

sasarannya. Kebenaran-kebenaran ilahi hanya bisa diperoleh melalui wahyu, yang

ditulis di dalam Kitab suci.

Sekalipun demikian, ada bidang-bidang yang dimiliki bersama, baik oleh

filsafat maupun oleh teologia. Umpamanya pengetahuan tentang Allah dan Jiwa.

Baik filsafat maupun teologia keduanya dapat mengadakan penelitian sesuai

dengan kecakapan masing-masing. Sebaliknya, ada bidang-bidang yang

samasekali berada di luar jangkauan masing-masing, umpamanya: filsafat hanya

dapat menjangkau hal-hal di kawasan alam, sedangkan misteri berada di luar

jangkauannya, karena misteri hanya dapat di dekati dengan iman. Dengan

demikian, hubungan antara filsafat dan teologia menurut Thomas, filsafat dan

teologia adalah laksana dua lingkaran, meskipun yang satu berada di luar yang

lain, namun bagian tepinya ada yang bersentuhan. Disini terlihat bahwa Thomas

Aquinas mempersatukan unsur-unsur pemikiran Augustinus-Neoplatonisme

dengan unsur-unsur pemikiran Aristoteles, sedemikian rupa sehingga menjadi

suatu sintesa yang belum pernah ada.

Menurut Thomas, Allah adalah aktus yang paling umum, aktus purus

(aktus murni), artinya keberadaan Allah sempurna, tidak ada perkembangan pada-

Nya, karena pada-Nya tidak ada potensi. Di dalam Allah segala sesuatu telah

sampai kepada perealisasiannya yang sempurna. Allah itu mutlak, bukan yang

“mungkin”. Allah adalah aktualitas semata-mata. Oleh karena itu, pada Allah

terdapat hakekat (essentia) dan eksistensi (existentia), eksistensi Allah tidak

ditambahka pada hakekat, karena pada Allah hakikat dan eksistensi itu identik,

7

tidak terpisah. Hal ini tidak terjadi pada makhluk. Eksistensi atau keberadaan

makhluk adalah sesuatu yang ditambahkan kepada hakekatnya (essentia). Pada

makhluk hubungan antara hakekat dan eksistensi seperti materi dan bentuk, atau

seperti potensi dan aktus, atau seperti bakat dan perealisasiannya. Pada Allah tiada

sesuatu pun yang berada sebagai potensi yang belum menjadi aktus.8

3. Argumen kosmologi

Thomas juga mengajarkan apa yang disebut theologia naturalis, yang

mengajarkan bahwa manusia dengan pertolongan akalnya dapat mengenal Allah,

meskipun pengetahuan tentang Allah yang diperolehnya dengan akal itu tidak

jelas dan tidak menyelamatkan. Melalui akalnya manusia dapat mengetahui

bahwa Allah ada, dan juga tahu beberapa sifat Allah. Dengan akalnya manusia

dapat mengenal Allah, setelah ia mengemukakan pertanyaan-pertanyaan

mengenai dunia, alam semesta dan makhluk-Nya. Thomas berpendapat, bahwa

pembuktian tentang adanya Allah hanya dapat dilakukan secara a posteriori.

Dalam hal ini Thomas memberikan 5 bukti, yaitu:

1. Adanya gerak di dunia mengharuskan kita menerima bahwa ada

Penggerak Pertama, yaitu Allah. Menurut Thomas, apa yang bergerak

tentu digerakkan oleh sesuatu yang lain. Seandainya sesuatu yang

digerakkan itu menggerakkan dirinya sendiri, maka yang menggerakkan

diri sendiri itu harus juga digerakkan oleh sesuatu yang lain, sedang yang

menggerakkan ini juga harus digerakkan oleh sesuatu yang lain lagi.

Gerak menggerakkan ini tidak dapat berjalan tanpa batas. Maka harus ada

penggerak pertama. Penggerak Pertama ini adalah Allah.

2. Di dalam dunia yang diamati ini terdapat suatu tertib sebab-sebab yang

membawa hasil atau yang berdayaguna. Tidak pernah ada sesuatu yang

diamati yang menjadi sebab yang menghasilkan dirinya sendiri. Karena

sekiranya ada, hal yang menghasilkan dirinya itu tentu harus mendahului

dirinya sendiri. Hal ini tidak mungkin, sebab yang berdaya guna, yang

8 Jhon E. Smith, The Analogy of Experience, (New York: Harper & Row,1973, hlm. 5

8

menghasilkan sesuatu yang lain itu, juga tidak dapat ditarik hingga tiada

batasnya. Oleh karena itu, harus ada sebab berdayaguna yang pertama.

Inilah Allah.

3. Di dalam alam semesta terdapat hal-hal yang mungkin “ada” dan “tidak

ada”. Oleh karena itu semuanya itu tidak berada sendiri, tetapi diadakan,

dan oleh karena itu semuanya itu juga dapat rusak, maka ada kemungkinan

semuanya itu “ada”, atau semuanya itu “tidak ada”. Tentu tidak mungkin

semuanya itu senantiasa “ada”. Sebab apa yang mungkin “tidak ada” pada

suatu waktu memang tidak ada. Karena segala sesuatu memang mungkin

“tidak ada”, maka pada suatu waktu mungkin saja tidak ada sesuatu.

Jikalau pengandaian ini benar, maka sekarang juga mungkin tidak ada

sesuatu. Padahal apa yang tidak ada hanya dapat dimulai berada jikalau

diadakan oleh sesuatu yang telah ada. Jikalau segala sesuatu hanya

mewujudkan kemungkinan saja, tentu harus ada sesuatu yang “adanya”

mewujudkan suatu keharusan. Padahal sesuatu yang adanya adalah suatu

keharusan, “adanya” itu dapat disebabkan oleh sesuatu yang lain, atau

berada sendiri. Seandainya sesuatu yang adanya adalah suatu keharusan

disebabkan oleh sesuatu yang lain, sebab-sebab itu tak mungkin ditarik

hingga tiada batasnya. Oleh karena itu, harus ada sesuatu yang perlu

mutlak, yang tak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Inilah Allah.

4. Diantara segala yang ada terdapat hal-hal yang lebih atau kurang baik,

lebih atau kurang benar, dan lain sebagainya. Apa yang disebut kurang

baik, atau lebih baik, itu tentu disesuaikan dengan sesuatu yang

menyerupainya, yang dipakai sebagai ukuran. Apa yang lebih baik adalah

apa yang lebih mendekati apa yang terbaik. Jadi, jikalau ada yang kurang

baik, yang baik dan yang lebih baik, semuanya mengharuskan adanya

yang terbaik. Demikian juga halnya dengan yang kurang benar, yang benar

dan yang lebih benar dan lain sebagainya. Dari ini semua dapat

disimpulkan, bahwa harus ada sesuatu yang menjadi sebab dari segala

yang baik, segala yang benar, segala yang mulia, dan sebagainya. Yang

menyebabkan semuanya itu adalah Allah.

9

5. Segala sesuatu yang tidak berakal, misalnya: tubuh alamiah, berbuat

menuju kepada tujuannya. Hal ini tampak dari caranya segala sesuatu yang

tidak berakal tadi berbuat, yaitu senantiasa dengan cara yang sama untuk

mencapai hasil yang terbaik. Dari situ terlihat bahwa perbuatan tubuh

bukanlah perbuatan kebetulan, semuanya diatur oleh suatu kekuatan,

semuanya itu menuju pada “akhir”. Jika tidak diarahkan oleh suatu “tokoh

yang berakal”, maka semua perbuatan tubuh tidak mungkin memperoleh

ilmu pengetahuan. Kekuatan yang mengarahkan itu adalah Allah.9

Bukti-bukti di atas memang dapat menunjukkan bahwa ada pencipta yang

menyebabkan adanya segala sesuatu. Pencipta yang berada karena diri-Nya

sendiri. Akan tetapi semuanya itu tidak dapat secara riil dapat membuktikan

kepada kita mengenai hakekat Allah. Melalui bukti-bukti penciptaan-Nya kita

mengetahui, bahwa Allah itu ada.

Bukti-bukti yang dikemukakan Thomas didasarkan atas premis yang sama.

Argumen kosmologi sering juga dinamakan argumen sebab pertama. Ia adalah

suatu argumen deduktif yang mengatakan bahwa apa saja yang terjadi mesti

mempunyai sebab, dan sebab itu juga mempunyai sebab dan seterusnya.

Rangkaian sebab-sebab mungkin tanpa ujung atau mempunyai titik permulaan

dalam sebabnya yang pertama. Aquinas mengeluarkan kemungkinan adanya

rangkaian sebab pertama yang kita namakan Tuhan.

Bagi Thomas, argumen kosmologi tentang eksistensi Tuhan adalah sesuatu

yang penting. Menurutnya, sebagai makhluk yang berakal, kita harus

membedakan antara ciri-ciri yang aksidental dan ciri-ciri yang esensial tentang

realitas, atau antara objek-objek yang bersifat sementara dan objek-objek yang

bersifat permanen. Tiap-tiap kejadian antara perubahan memerlukan suatu sebab,

dan menurut logika, kita harus kembali ke belakang, kepada sebab yang berada

sendiri, tanpa sebab atau kepada Tuhan yang berdiri sendiri. Oleh sebab itu,

Tuhan bersifat imanen dalam alam, ia prinsip pembentuk alam. Tuhan adalah

9Harun Hadiwiono, op.Cit, hlm. 108

10

syarat bagi perkembangan alam yang teratur serta sumber dan dasarnya yang

permanen.10

Sekalipun demikian dapat juga dikatakan bahwa orang memang dapat

memiliki beberapa pengetahuan filsafati tentang Allah. Di sini Thomas mengikuti

ajaran Dionisios dari Areopagos, akan tetapi ajaran Neoplatonisme itu dirobah,

disesuaikan denga teori pengenalannya yang berdasarkan ajaran Aristoteles.

Melalui akal, ada 3 (tiga) cara manusia dapat mengenal Allah, yaitu:

1. Segala makhluk sekedar mendapat bagian dari keadaan Allah. Hal ini

mengakibatkan bahwa segala yang secara positif baik pada para

makhluk dapat dikenakan juga kepada Allah (via positiva).

2. Sebaliknya juga dapat dikatakan, karena adanya analogi keadaan,

bahwa segala yang ada pada makhluk tentu tidak ada pada Allah

dengan cara yang sama (via negativa).

3. Jadi, apa yang baik pada makhluk tentu berada pada Allah dengan cara

yang jauh melebihi keadaan pada para makhluk itu (via iminentiae).11

4. Penciptaan

Pemikiran filsafat Thomas tentang penciptaan juga suatu pemikiran yang

penting. Pemikirannya tersebut pada dasarnya adalah ajaran Augustinus-

Neoplatonisme, yaitu ajaran tentang partisipasi. Segala makhluk berpartisipasi

dalam keadaan Allah, atau mendapat bagian dari “ada” Allah. Hal ini disebabkan

bukan karena emanasi seperti yang diajarkan Neoplatonisme, melainkan karena

karya penciptaan Allah. Allah menciptakan dari “yang tidak ada” (ex nihilo).

Sebelum dunia diciptakan tidak ada apa-apa, sehingga juga tidak ada dualisme

yang asasi antara Allah dan benda, antara yang baik dan yang jahat. Segala

sesuatu dihasilkan Allah dengan penciptaan. Oleh karena itu, segala sesuatu

berpartisipasi atau mendapat bagian dari kebaikan Allah, sekalipun cara makhluk

memiliki kebaikan itu berbeda dengan cara Allah.12

10Titus, Nolan, smith, op.Cit, hlm. 454

11 Harun Hadiwijono, loc.Cit.

12K.Bertens, op. Cit, hlm. 36

11

Selanjutnya harus diperhatikan bahwa menurut Thomas penciptaan

bukanlah suatu perbuatan pada suatu saat tertentu, dan setelah itu dunia dibiarkan

pada nasibnya sendiri. Penciptaan adalah suatu perbuatan Allah yang terus

menerus, melalui penciptaan itu Allah terus menerus menghasilkan dan

memelihara segala yang bersifat sementara. Dengan demikian, dari kekekalan

Allah menciptakan jagat raya dan waktu. Segala sesuatu diciptakan sesuai dengan

bentuknya atau ideanya yang berada di dalam roh Allah. Idea-idea itu bukan

berada di luar Allah, akan tetapi identik dengan Dia, satu dengan hakekat-Nya. Ini

berarti bahwa dunia ada awalnya. Pemikirannya ini jelas sekali pengaruh

pemikiran Neo-Platonisme dan Al-Farabi dengan filsafat emanasinya.13

Dikarenakan jagad raya diciptakan Allah, maka jagad raya bukan Allah,

meskipun memang mendapat bagian dari “ada” Allah. Partisipasi ini bukan secara

kuantitatif, artinya: bukan seolah-olah tiap makhluk mewakili sebagian kecil

tabiat ilahi. Bahwa makhluk berpartisipasi dengan Allah berarti ada sekedar

analogia, sekedar kesamaan atau kiasan antara Allah dan makhluk-Nya. Allah

memberikan kebaikan-Nya juga kepada makhluk-Nya. Analogi atau kesamaan ini

bukan hanya menunjuk kepada kesamaannya, tetapi juga kepada perbedaannya,

artinya: sekalipun ada kesamaan, tetapi ada juga perbedaanya dalam cara

beradanya. Analogia ini bukan mengenai perkara-perkara yang sampingan, akan

tetapi mengenai perkara yang paling hakiki, yaitu mengenai “ada”nya Allah dan

“ada”nya makhluk (analogia entis). Analogia ini di satu pihak menunjuk kepada

adanya jarak yang tak terhingga antara Allah dan makhluk, tetapi di lain pihak

para makhluk itu sekedar menampakkan kesamaannya juga dengan Allah.

5. Makhluk Murni

Menurut Thomas Aquinas, makhluk-makhluk rohani dalam arti yang

murni (yaitu para malaikat) juga tersusun dari hakekat dan eksistensi, sekalipun

mengenai malakat dapat juga dibicarakan hal “bentuk”. Para malaikat memiliki

hakekat (essentia) roh dan mereka bereksistensi. Pada malaikat tidak terdapat

13Lihat: Hasyimsah Nasution, MA, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005),

hlm. 35-38. Lihat Juga Poerwantana et.al., Seluk Beluk Filsafat Islam, (Bandung: Remaja

Rosdakarya, 1991), hlm. 135-138

12

susunan materi dan bentuk, potensi dan aktus. Hal ini dikarenakan potensi para

malaikat tiada potensi yang harus berkembang. Oleh karena itu, diantara para

malaikat tiada individuasi dalam satu jenis. Tiap malaikat adalah jenisnya sendiri.

Baru pada makhluk-makhluk yang berjasad (benda-benda mati, tumbuhtumbuhan,

binatang dan manusia) ada 2 macam susunan, yaitu hakikat dan

eksistensi (essentia dan existentia), sebagai tanda pengenal makhluk, materi dan

bentuk, atau potensi dan aktus. Dan sebagai tanda pengenal segala yang berjasad,

yang bendani. 14

6. Jiwa

Manusia adalah suatu kesatuan yang berdiri sendiri, yang terdiri dari

bentuk (jiwanya) dan materi (tubuhnya). Dikarenakan hubungan antara jiwa dan

tubuh sebagai bentuk dan materi atau sebagai aktus dan potensi atau bisa juga

dikatakan sebagai perealisasian dari bakat. Jiwa bukanlah sesuatu yang berdiri

sendiri seperti yang diajarkan oleh Plato. Terhadap tubuh, jiwa merupakan bentuk

atau aktus atau perealisasiannya, karena jiwa adalah daya gerak yang menjadikan

tubuh sebagai materi, atau sebagai potensi, menjadi realitas. Jiwalah yang

memberikan perwujudan kepada tubuh sebagai materi. Dengan demikian,

praeksistensi ditolak oleh Thomas. Akan tetapi jiwa dianggap tidak dapat binasa

bersamaan dengan tubuh, jiwa tidak dapat mati.

Bagi Thomas, tiap perbuatan (juga berpikir dan berkehendak) adalah suatu

perbuatan segenap pribadi manusia, perbuatan “aku”, yaitu jiwa dan tubuh sebagai

kesatuan. Jadi bukan akalku berpikir, atau mataku melihat dsb, akan tetapi aku

berpikir, aku melihat, dsb. Kesatuan manusia ini mengandaikan bahwa tubuh

manusia hanya dijiwai oleh satu bentuk saja, bentuk rohani, yang sekaligus juga

membentuk hidup lahiriah dan batiniah. Jadi, jiwa adalah bersatu dengan tubuh

dan menjiwai tubuh.

Jiwa memiliki 5 daya, yaitu:

1. Daya jiwa vegetatif, yaitu yang bersangkutan dengan pergantian zat dan

dengan pembiakan.

2. Daya jiwa yang sensitif, daya jiwani yang berkaitan dengan keinginan

14Harun Hadiwijono, op.cit., hlm. 106

13

3. Daya jiwa yang menggerakkan

4. Daya jiwa untuk memikir

5. Daya jiwa untuk mengenal

Daya untuk memikir dan mengenal terdiri dari akal dan kehendak. Akal

adalah daya yang tertinggi dan termulia, yang lebih penting daripada kehendak,

karena yang benar adalah lebih tinggi daripada yang baik. Mengenal adalah suatu

perbuatan yang lebih sempurna daripada menghendaki.15

Pandangan Thomas tentang pengenalan berkaitan erat dengan

pandangannya tentang hubungan antara jiwa dan tubuh. Pada dirinya jiwa bersifat

pasif, baik dalam pengenalan inderawi maupun dalam pengenalan akali. Dayadaya

penginderaan (tenaga untuk melihat, mendengar, dll) ditentukan oleh bendabenda

yang ada di luar. Yang menjadi pelaku atau subyek dalam pengenalan

adalah kesatuan jiwa dan tubuh yang berdiri sendiri. Akal pada dirinya hanyalah

seperti sehelai kertas yang belum ditulis, yang tidak memiliki idea-idea sebagai

bawaannya dan tidak menghasilkan sasaran pengenalannya. Akal hanya menerima

sasaran pengenalannyan dari luar. Oleh karena itu, pengenalan akali atau

pengenalan yang diperoleh dengan akal, menurut isinya, seluruhnya tergantung

kepada indera. Pengenalan berpangkal dari pengalaman. Adapun yang menjadi

sasaran akal adalah hakekat benda-benda berjasad. Indera memberikan gambarangambaran

dari sasaran yang diamati. Gambaran-gambaran itu secara potensial

memiliki hakekat benda yang diamati. Dengan abstraksi jiwa menarik hakikat

benda-benda yang diamati tadi dari gambaran-gambaran yang diberikan oleh

pengamatan inderawi. Hakekat itu dirobah menjadi suatu bentuk yang dapat

dikenal. Pengetahuan terjadi kalau akal telah mengambil bentuk itu dan

mengungkapkannya. Jadi, di dalam pengenalan akal tergantung kepada bendabenda

yang diamati indera.

Dalam pengenalan akali ini tidak diperlukan penerangan khusus dari

Allah, karena yang dimiliki akal sudah cukup untuk dijadikan alat guna

mendapatkan pengetahuan dan memberi jaminan subjektif bagi kepastian

15Ibid., hlm. 111. Bandingkan dengan Filsafat al-Farabi tentang Jiwa. Lihat: Hasyimsah

Nasution, filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hlm. 39-40

14

pengetahuan itu. Mengenai jaminan kepastian yang bersifat objektif dikatakan,

bahwa hal itu tergantung dari hakikat obyek yang dikenal itu sendiri, artinya:

tergantung dari idea ilahi sendiri.16

6. Etika Teologis

Etika Aquinas disesuaikan dengan ajarannya tentang manusia. Moral, baik

yang berlaku bagi perorangan, maupun yang berlaku bagi masyarakat, diturunkan

dari cahaya manusia diciptakan oleh Allah, atau diturunkan dari tabiat manusia.

Hal ini dikarenakan manusia menurut tabiatnya, adalah makhluk sosial.

Dalam menguraikan etika, Thomas tidak memakai metode deduksi

sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang sezamannya. Dia menggunakan

metode induktif, yaitu dengan menyesuaikan etikanya dengan kenyataan hidup.

Etika Thomas aquinas berkaitan dengan iman kepercayaan kepada Allah pencipta.

Dalam arti ini, etika Aquinas memiliki unsur teologis. Namun, unsur itu tidak

menghilangkan cirinya yang khas filosofis bahwa etika itu memungkinkan orang

menemukan garis hidup yang masuk akal.

Tujuan terakhir hidup perorangan adalah memandang Allah. Berdasarkan

tujuan terakhir hidup manusia ini, hidup perorangan diarahkan ke situ, dan seluruh

masyarakat harus diatur sesuai dengan tuntutan tabiat manusia. Dengan demikian

seluruh masyarakat akan membantu orang menaklukkan nafsu-nafsunya kepada

akal dan kehendak.

Menurut Aquinas, sebenarnya segala nafsu baik. Akan tetapi, nafsu-nafsu

itu dapat menjadi jahat ketika nafsu-nafsu itu melanggar kawasan masing-masing

dan tidak mendukung akal dan kehendak. Jika demikian, nafsu-nafsu itu lalu

menyimpang dari arahnya yang asasi. Jadi, sebenarnya arah perbuatan kesusilaan

bukanlah untuk mematikan nafsu, tetapi untuk mengaturnya, sehingga nafsu-nafsu

itu turut membantu manusia dalam upaya merealisasikan tugas terakhir hidupnya.

Tentu saja tetap masih ada kemungkinan terjadinya hal-hal yang jahat.

Bagaimanapun kejahatan tidak berada sebagai kekuatan yang berdiri sendiri, tidak

diciptakan Allah. Kejahatan berada dimana tiada kebaikan.

16 Edmunt W. Sinnot, The Biology of Spirit, (New York: Viking, 1955), Matter, Mind and

Man: The Biology of Human Nature (New York: Harper, 1957), lihat juga tulisan R.G. Swinburne,

“The Argument from Design, “Philosophy 43 “ (July, 1968), hlm. 199-212

15

Akal merupakan norma perbuatan manusia. Oleh sebab itu, kebaikan

merupakan perbuatan yang telah dipertimbangkan melalui akal. Akal adalah

pencerminan Akal Ilahi. Dari akal itu diturunkan kebajikan akali.

Didalam etika sosial diajarkan bahwa negara adalah bentuk hidup yang

tertinggi di kawasan segala sesuatu yang bersifat kodrati. Menurut tabiatnya

manusia dikaitkan dengan hidup bersama di dalam masyarakat dan negara.

Bentuk yang paling sederhana dari hidup bersama yang kodrati itu terdapat pada

keluarga. Oleh karena itu, keluarga menjadi sel organisme masyarakat.17

Keunggulan Etika Thomas dibandingkan dengan etika teolog lainnya

terlihat pada pandangannya etika peraturan. Kebanyakan etika yang mendasarkan

kewajiban moral manusia kepada kehendak Tuhan bersifat etika peraturan yang

diberikan Tuhan dan karena itu harus ditaati oleh manusia. Meskipun tidak salah,

pola etika peraturan itu tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa peraturan itu

diterapkan? Jadi, ada defisit dalam rasionalitas. Orang dewasa mau saja taat pada

peraturan, tetapi ia ingin tahu mengapa peraturan itu dibuat. Peraturan itu dibuat

oleh yang berwenang, tidaklah membuatnya rasional. Selain itu, etika peraturan

mereduksi sikap moral manusia pada pertanyaan ”boleh atau tidak boleh?”

pertanyaan itu tidak memberi ruang kepada salah satu faham moral yang paling

penting dan paling dibutuhkan pada zaman pasca tradisional, yaitu

tanggungjawab. Thomas mengatasi kelemahan itu, karena hukum abadi yang

diperintahkan oleh Tuhan adalah pengembangan dan penyempurnaan manusia

sendiri. Jadi, ada rasionalitas internal hidup menurut hukum kodrat, hanya

memenuhi perintah Tuhan yang memang sesuai dengan dinamika intenal manusia

sendiri. Dengan demikian, manusia menemukan diri menjadi nyata. Ketakwaan

dan kebijaksanaan menyatu takwa karena taat kepada Tuhan, bijaksana karena

memang demi keutuhan manusia sendiri. Taat kepada Allah secara intrinsik

menjadikan manusia bahagia karena dengan demikian ia menemukan

kesempurnaan. Berbeda dengan etika Kant yang mereduksi moralitas pada

kewajiban. Etika Thomas berkaitan dengan desakan dasar hati manusia ke arah

17Harun Hadiwijono, op. Cit., hlm. 112

16

kebahagiaan. Setiap orang ingin bahagia. Keinginan itu yang terlaksana melalui

etika hukum kodrat.

Dengan demikian, Thomas mempertahankan faham Yunani yang

mengatakan bahwa etika mengajarkan seni hidup. Seni hidup dalam arti bahwa

orang yang mengikuti tuntutan etika menjadi semakin pandai atau bijaksana

dalam cara mengurus gaya hidupnya dengan sedemikian rupa. Sehingga terasa

lebih berkualitas, bermakna dan lebih maju. Aspek inilah yang tidak ada pada pola

etika kewajiban sebagaimana dicanangkan oleh Kant. Thomas Aquinas tidak

memisahkan antara ketakwaan dan kebijaksanaan, begitu pula antara keutamaan

moral dan kebijaksanaan. Dalam kerangka teori hukum kodrat, orang bijaksana

akan hidup lebih baik, karena itulah yang paling membahagiakan dan memang

itulah yang dikehendaki Tuhan pencipta.

Filsafat Etika Thomas aquinas memiliki rasionalitas tinggi. Disamping itu

pula hukum kodrat mempunyai sifat yang universal karena meskipun acuan

kepada Allah pencipta bersifat teologis, dalam strukturnya sendiri etika ini tidak

berdasarkan iman kepercayaan atau agama tertentu. Etika hukum kodrat terbuka

bagi siapa saja mengembangkan potensi-potensinya, menyempurnakan diri secara

utuh, mengusahakan identitasnya, semua itu merupakan tujuan yang masuk akal.

Dalam hal ini Aristoteles menegaskan bahwa manusia bebas dalam

berbuat. Stoa mendahului Kant, menyatakan bahwa kualitas manusia akan moral

ditentukan oleh kehendaknya, bukan tindakan lahiriah yang menentukan orang

baik atau buruk dalam arti moral, melainkan sebagai ungkapan kehendak.18

Manusia itu baik apabila ia berkehendak baik, dan jahat bila berkehendak jahat.

Augustinus juga memiliki pandangan yang sama, demikian pula halnya dengan

Thomas Aquinas. Menurut Thomas, manusia memilih antara baik dan buruk.

Perbuatan baik mengarahkan kepada tujuan akhir. Perbuatan buruk akan

menjauhkan daripada-Nya. Kebebasan itu padanan dari akal budi. Sebagaimana

akal budi merupakan kemampuan kognitif manusia yang terbuka kepada yang tak

terhingga, begitu pula kehendak adalah dorongan manusia yang mengarah kepada

yang baik, yaitu nilai yang tak terhingga.

18K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hlm. 127

17

Thomas aquinas membedakan antara dua macam kegiatan manusia, yaitu

kegiatan manusiawi dan kegiatan manusia. Kegiatan manusia adalah segala

macam gerak, perkembangan dan perubahan pada manusia yang tidak disengaja,

yang murni vegetatif atau sensitif dan instingtif. Kegiatan ini di luar kuasa

manusia, tidak perlu dipertanggungjawabkan, itu berarti kegiatan pada manusia

itu tidak mempunyai kualitas moral mereka bukan baik atau buruk. Kegiatan

manusia justru tidak khas manusia, melainkan juga ada pada binatang dan

sebagian juga pada tumbuhan. Kegiatan yang khas bagi manusia disebut kegiatan

manusiawi, yaitu kegiatan sebagai manusia yang tidak ada organisme lain. Itulah

kegiatan yang disengaja, tindakan dalam arti yang sebenarnya. Tindakan itu

dikuasai. Berarti berlaku dengan bebas karena kita menentukan diri sendiri. Atas

tindakan tersebut, maka kita bertanggungjawab. Karena itu, tindakan menentukan

kualitas moral manusia. Tindakan baik, berarti manusia baik, tindakan buruk

berarti manusia jahat. Apakah manusia mendekati tujuan akhir atau tidak adalah

tanggungjawab manusia itu sendiri. Ia wajib bertindak ke arah yang baik dan tidak

bertindak ke arah yang jahat. Perintah moral paling dasar menurut Thomas

Aquinas adalah: “lakukanlah yang baik, jangan melakukan yang salah. Yang baik

adalah tujuan terakhir manusia, yang buruk adalah apa yang tidak sesuai.

Tindakan ini didahului oleh pengertian bahwa sesudah mengetahui yang baik, kita

wajib menghendaki melakukan. Begitu pula, kita wajib menghindari apa yang kita

ketahui sebagai yang jahat.19

Kemantapan dalam berbuat baik dan menolak yang jahat disebut

keutamaan. Aquinas mengambil faham keutamaan dari Aristoteles. Keutamaan

merupakan sikap hati yang sudah mantap, seakan-akan diandalkan. Sikap pada

kebiasaan hati itu terbentuk karena tindakan. Manusia diharapkan mengusahakan

keutamaan agar ia dengan mudah dapat bertindak sesuai dengan apa yang

disadarinya dengan baik, agar kehendak, bagian dari jiwa yang menuju baik

semakin terarah kepada apa yang diketahui dengan baik, yang sesuai dengan akal

budi. Sebagaimana bagi Aristoteles begitu juga bagi Thomas, keutamaan pada

umumnya merupakan sikap yang ditengah. Artinya keutamaan berada diantara

19Titus, et.al., op. Cit., hlm. 460

18

dua sikap yang ekstrim yang kedua-duanya buruk (kebijaksanaan, misalnya,

terletak diantara kebodohan dan sikap berhati-hati yang berlebihan).

Lex Aterna, Lex Naturalis dan Lex Humana: Filsafat Politik Thomas Aquinas

Pemikiran Thomas Aquinas tentang etika politik bisa dilihat pada

pendapatnya mengenai hukum. Menurutnya, hukum pada kodratnya sangat

memperhatikan keadilan pada masyarakatnya. Dalam negara hukum

konstitusional, keberadaannya diukur pada bagaimana Negara tersebut memberi

perlindungan kepada rakyat dan memperhatikan hak-hak asasi manusia. Dalam

kesepakatan etika politik modern dinyatakan bahwa kekuasaan politik

memerlukan legitimasi demokrasi dan dalam tuntutan bahwa negara dibebani

tanggungjawab untuk mewujudkan keadilan sosial.

Sumbangsih pemikirannya pada filsafat politik walaupun hanya

merupakan sebagian kecil dari seluruh tulisannya, tenyata sangat esensial pada

etika kekuasaan. Thomas membicarakan masalah etika politik dalam dua tulisan,

yaitu Summa Theologiae I dan dalam tulisan mungilnya De Regimine Principum

(tentang pemerintahan raja).20

Pada uraian pertama, Thomas membicarakan tiga macam hukum dan

hubungan yang terdapat diantara hukum-hukum ini, yang pertama adalah Lex

Aterna (Hukum Abadi) atau kebijakan Ilahi sendiri sejauh merupakan dasar

kodratnya, karena kodrat makhluk-makhluk mencerminkan kebijaksanaan yang

menciptakannya. Bahwa makhluk itu ada dan bahwa makhluk berbentuk atau

berkodrat sebagaimana adanya adalah karena itulah yang dikehendaki Sang

Pencipta. Kenyataan ini mempunyai akibat, bahwa kodratnya adalah normatif

bagi ciptaannya. Makhluk itu dengan sendirinya tumbuh, bergerak dan

berkembang menurut hukum alam. Tetapi lain halnya dengan manusia. Manusia

memiliki pengertian dan kemauan bebas dan oleh karena itu dapat menentukan

sendiri bagaimana ia mau bertindak. Dalam hal ini, baginya kodrat merupakan

hukum dalam arti yang sungguh-sungguh manusia hidup sesuai dengan

kodratnya. Hukum kodrat itulah dasar semua tuntutan moral. Dengan

menghubungkan hukum moral dengan hukum kodrat, Thomas mencapai dua hal

sekaligus, ia mendasarkan norma-norma moral pada wewenang mutlak Sang

Pencipta. Dan ia sekaligus menunjukkan rasionalitasnya. Rasionalitasnya

merupakan tuntutan-tuntutan moral yang terletak dalam kenyataan. Tuntutantuntutan

itu sesuai dan berdasarkan pada keperluan kodrat manusia. Thomas

dalam mengatasi irasionalisme sedemikian banyak etika religius yang

mempertanyakan norma-norma moral pada kehendak Tuhan, tanpa menjelaskan

mengapa Tuhan berkehendak demikian. Menurut kodratnya Tuhan menghendaki

agar manusia hidup sesuai dengan kodratnya, dan itu berarti, hidup sedemikian

rupa sehingga ia dapat berkembang. Dapat membangun dan menemukan

identitasnya, dapat menjadi bahagia. Dalam bahasa moral hukum kodrat menuntut

manusia agar hidup sesuai dengan martabatnya.21

Dengan demikian, Thomas Aquinas pada akar hukum moral menolak

segala paham kewajiban yang tidak dapat dilegitimasikan secara rasional, dari

kebutuhan manusia sendiri yang sebenarnya. Prinsip itu diterapkan dengan tegas

pada hukum buatan manusia, Lex Humana. Menurut Thomas, suatu hukum buatan

manusia berlaku apabila menurut dimensinya berdasarkan hukum kodrat isinya

harus sesuai dengan hukum kodrat dan pihak yang memasang hukum itu memiliki

wewenangnya berdasarkan hukum kodrat. Thomas Aquinas terlihat secara radikal

menolak kekuasaan sebagai dasar hukum. Suatu peraturan hanya bersifat hukum,

artinya hanya mengikat, apabila isinya dapat dilegitimasi secara rasional dari

hukum kodrat. Suatu “hukum” yang bertentangan dengan hukum kodrat, menurut

Thomas tidak memiliki status hukum, melainkan merupakan “Corruptio Legis

atau penghancuran hukum. Jadi, Thomas secara radikal menuntut legitimasi etis

penggunaan kekuasaan. Kekuasaan tidak dapat membenarkan dirinya sendiri.

Kekuasaan hanyalah suatu kenyataan fiksi dan sosial, tetapi tidak mencakup suatu

wewenang. Bagi Thomas tak ada satu orang pun yang secara asasi mempunyai

wewenang atas manusia lainnya, yang berwenang hanyalah satu yaitu Sang

21J.h. Cardinal Newman, A Grammar of Assent, C.F. Harold (ed.) (New York: David

McKay, 1947), hlm. 83-84

20

pencipta dan segenap wewenang atas manusia haruslah mendapat hak dan

wewenang yang pertama itu. Hukum kodrat adalah tolok ukur legitimasi segala

tindakan kekuasaan. Suatu ketentuan penguasa yang tidak sesuai dengan hukum

kodrat, tidak mengikat.

Filsafat politik Thomas Aquinas membuka fakta kekuasaan terhadap kritik

dan tuntutan pertanggungjawaban. Sekalipun dipastikan bahwa segenap

kekuasaan manusia terbatas sifatnya dan tidak pernah mutlak. Kekuasaan itu perlu

sejauh manusia sebagai makhluk berkodrat sosial, membutuhkan kesatuan

pimpinan agat ia dapat menjalankan kemanusiaanya secara utuh. Kekuasaan

adalah fungsional demi kesejahteraan masing-masing orang.

Mengenai pemerintahan kerajaan yang dia tujukan kepada Raja Hugo di

Cyprus, Thomas menjelaskan perbedaan antara pemerintahan yang sah dan

pemerintahan yang disebut despotik. Pemerintahan despotik adalah pemerintahan

yang hanya berdasarkan kekuasaan saja, sedangkan pemerintahan politik yang sah

harus sesuai dengan kodrat manusia sebagai orang yang bebas. Apabila kumpulan

orang-orang bebas dibimbing kearah kesejahteraan umum masyarakat, maka

pemerintahan seperti ini bisa dikatakan pemerintahan yang benar dan adil. Tetapi,

apabila pimpinan tidak mengusahakan kesejahteraan umum masyarakat, lebih

mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, maka ini pemerintahan yang tidak

adil dan bertentangan dengan kodrat. “Kekuasaan pada dasarnya hanya benar dan

baik sejauh berjalan dalam batas-batas yang sesuai dengan kodrat. Sedangkan

hukum sendiri harus menunjang tujuan negara, yaitu mengusahakan kemakmuran

bersama, bukan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Yang boleh disebut

raja bukanlah orang yang kebetulan duduk di atas tahta istana kerajaan, melainkan

seorang penguasa yang memerintah demi kesejahteraan umum masyarakat, bukan

demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Menurut Aquinas, tidak pernah seorang dengan sendirinya berhak

memerintah orang lain. Sebagai sesama ciptaan Tuhan tidak ada manusia yang

mengungguli manusia yang lain. Jika ada yang memerintah dan diperintah, maka

harus berdasarkan kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Fungsi suatu

pemerintahan memang diperlukan dalam rangka upaya mewujudkan kehidupan

21

yang sejahtera. Kepada siapa pemerintahan itu dipercayakan, masyarakatlah yang

berhak menentukan (rakyat, populus dalam bahasa Thomas Aquinas). Setiap raja

atau penguasa yang sah menduduki jabatannya berdasarkan pada suatu perjanjian

dengan rakyatnya. Dalam perjanjian itu rakyat disatu pihak, berjanji akan taat

kepada raja. Dan dipihak lain, raja berjanji akan mempergunakan kekuasaannya

demi tujuan yang sebenarnya, yaitu untuk mengusahakan kepentingan rakyat atau

kesejahteraan umum. Apabila raja menyalahgunakan kekuasaannya demi

kepentingan sendiri, berarti dia melanggar perjanjian. Dengan demikian,

perjanjian ini tidak berlaku lagi.

Untuk mencegah timbulnya Tirani dalam kekuasaan, maka hendaknya

diatur sedemikian rupa sehingga raja tidak memiliki kesempatan untuk

mendirikan pemerintahan yang despotik.22 Sebagai seorang yang sangat religius

Thomas berpesan, manusia tidak berhak menyombongkan diri dihadapan Tuhan

dan manusia. Meskipun mereka sedang menduduki jabatan sebagai penguasa.

Kekuasaan merupakan titipan masyarakat agar tercipta keharmonisan dalam hidup

bernegara.

ST. THOMAS AQUINAS (1225-1274)

 

            Thomas Aquinas (1225, Aquino, Italia – Fossanova, Italia, 7 Maret1274), kadangkala juga disebut Thomas dari Aquino (bahasa Italia: Tommaso d’Aquino) adalah seorang filsuf dan ahli teologi ternama dari Italia. Ia terutama menjadi terkenal karena dapat membuat sintesis dari filsafat Aristoteles dan ajaran Gereja Kristen. Sintesisnya ini termuat dalam karya utamanya: Summa Theologiae (1273). Ia disebut sebagai “Ahli teologi utama orang Kristen.” Bahkan ia dianggap sebagai orang suci oleh Gereja Katholik dan memiliki gelar santo.
            Aquinas merupakan teolog skolastik yang terbesar. Ia adalah murid Albertus Magnus. Albertus mengajarkan kepadanya filsafat Aristoteles sehingga ia sangat mahir dalam filsafat itu. Pandangan-pandangan filsafat Aristoteles diselaraskannya dengan pandangan-pandangan Alkitab. Ialah yang sangat berhasil menyelaraskan keduanya sehingga filsafat Aristoteles tidak menjadi unsur yang berbahaya bagi iman Kristen. Pada tahun 1879, ajaran-ajarannya dijadikan sebagai ajaran yang sah dalam Gereja Katolik Roma oleh Paus Leo XIII.
            Thomas dilahirkan di Roccasecca, dekat Aquino, Italia tahun 1225. Ayahnya ialah Pangeran Landulf dari Aquino. Orang tuanya adalah orang Kristen Katolik yang saleh. Itulah sebabnya Thomas, pada umur lima tahun diserahkan ke biara Benedictus di Monte Cassino untuk dibina agar kelak menjadi seorang biarawan. Setelah sepuluh tahun Thomas berada di Monte Cassino, ia dipindahkan ke Naples untuk menyelesaikan pendidikan bahasanya. Selama di sana, ia mulai tertarik kepada pekerjaan kerasulan gereja, dan ia berusaha untuk pindah ke Ordo Dominikan, suatu ordo yang sangat berperanan pada abad itu. Keinginannya tidak direstui oleh orang tuanya sehingga ia harus tinggal di Roccasecca setahun lebih lamanya. Namun, tekadnya sudah bulat sehingga orang tuanya menyerah kepada keinginan anaknya. Pada tahun 1245, Thomas resmi menjadi anggota Ordo Dominikan.
            Sebagai anggota Ordo Dominikan, Thomas dikirim belajar pada Universitas Paris, sebuah universitas yang sangat terkemuka pada masa itu. Ia belajar di sana selama tiga tahun (1245 – 1248). Di sinilah ia berkenalan dengan Albertus Magnus yang memperkenalkan filsafat Aristoteles kepadanya. Ia menemani Albertus Magnus memberikan kuliah di Studium Generale di Cologne, Perancis, pada tahun 1248 – 1252. Pada tahun 1252, ia kembali ke Paris dan mulai memberi kuliah Biblika (1252-1254) dan Sentences, karangan Petrus Abelardus (1254-1256) di Konven St. Jacques, Paris. Kecakapan Thomas sangat terkenal sehingga ia ditugaskan untuk memberikan kuliah-kuliah dalam bidang filsafat dan teologia di beberapa kota di Italia, seperti di Anagni, Orvieto, Roma, dan Viterbo, selama sepuluh tahun lamanya. Pada tahun 1269, Thomas dipanggil kembali ke Paris. Ia hanya tiga tahun berada di sana karena pada tahun 1272 ia ditugaskan untuk membuka sebuah sekolah Dominikan di Naples.
            Dalam perjalanan menuju ke Konsili Lyons, tiba-tiba Thomas sakit dan meninggal di biara Fossanuova, 7 Maret1274. Paus Yohanes XXII mengangkat Thomas sebagai orang kudus pada tahun 1323. Thomas mengajarkan Allah sebagai “ada yang tak terbatas” (ipsum esse subsistens). Allah adalah “dzat yang tertinggi”, yang memunyai keadaan yang paling tinggi. Allah adalah penggerak yang tidak bergerak. Tampak sekali pengaruh filsafat Aristoteles dalam pandangannya. Dunia ini dan hidup manusia terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati). “Tabiat kodrati bukan ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat,” demikian kata Thomas Aquinas. Mengenai manusia, Thomas mengajarkan bahwa pada mulanya manusia memunyai hidup kodrati yang sempurna dan diberi rahmat Allah. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, rahmat Allah (rahmat adikodrati) itu hilang dan tabiat kodrati manusia menjadi kurang sempurna. Manusia tidak dapat lagi memenuhi hukum kasih tanpa bantuan rahmat adikodrati. Rahmat adikodrati itu ditawarkan kepada manusia lewat gereja. Dengan bantuan rahmat adikodrati itu manusia dikuatkan untuk mengerjakan keselamatannya dan memungkinkan manusia dimenangkan oleh Kristus.
            Mengenai sakramen, ia berpendapat bahwa terdapat tujuh sakramen yang diperintahkan oleh Kristus, dan sakramen yang terpenting adalah Ekaristi (sacramentum sacramentorum). Rahmat adikodrati itu disalurkan kepada orang percaya lewat sakramen. Dengan menerima sakramen, orang mulai berjalan menuju kepada suatu kehidupan yang baru dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang menjadikan ia berkenan kepada Allah. Dengan demikian, rahmat adikodrati sangat penting karena manusia tidak bisa berbuat apa-apa yang baik tanpa rahmat yang dikaruniakan oleh Allah. Gereja dipandangnya sebagai lembaga keselamatan yang tidak dapat berbuat salah dalam ajarannya. Paus memiliki kuasa yang tertinggi dalam gereja dan Pauslah satu-satunya pengajar yang tertinggi dalam gereja. Karya teologis Thomas yang sangat terkenal adalah “Summa Contra Gentiles” dan “Summa Theologia“.

FILSAFAT PENDIDIKAN

            Filsafat dan filosof berasal dari kata Yunani “philosophia” dan “philosophos”. Menurut bentuk kata, seorang philosphos adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sebagian lain mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran. Filsafat sering pula diartikan sebagai pandangan hidup. Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai peranan yang sangat besar. Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup itu menentukan arah dan tujuan proses pendidikan.
            Filsafat dan pendidikan memiliki hubungan yang erat, karena pada hakekatnya pendidikan adalah proses pewarisan dari nilai-nilai filsafat. Dalam pendidikan diperlukan bidang filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam masyarakatnya.
            Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran filosofis tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan persoalan masing-masing filosofis akan menggunakan teknik atau pendekatan yang berbeda, sehingga melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh latar belakang pribadi filosofis tersebut, pengaruh zaman, kondisi atau alam pikiran para filosofis. Dari perbedaan itu kemudian lahirlah aliran-aliran atau sistem filsafat.
            Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat sehingga aliran dalam filsafat pendidikan sekurang-kurangnya sebanyak filsafat itu sendiri. Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu Filsafat pendidikan “progresif” yang diidukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau dan filsafat pendidikan “ Konservatif”, yang didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius. Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme,dan sebagainya. Berikut aliran-aliran dalam filsafat pendidikan:
1. Filsafat Pendidikan Idealisme
2. Filsafat Pendidikan Realisme
3. Filsafat Pendidikan Materialisme
4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme
5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
6. Filsafat Pendidikan Progresivisme
7. Filsafat Pendidikan Esensialisme
8. Filsafat Pendidikan Perenialisme
9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme

ALIRAN FILSAFAT PERENIALISME

            Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.
            Perenialisme merupakan salah satu aliran dalam filsafat pendidikan yang lahir pada abad keduapuluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi atau kekal atau bersifat lestari. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang perubahan atau sesuatu yang baru yang diciptakan dari pandangangan progresivisme.
Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultural. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut dengan melihat nilai-nilai atau prinsip yang telah dijalankan pada masa lampau.
            Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal. ( dalam http://blog.persimpangan.com/blog/2007/09/27/filafat-perenialisme/)
            Dengan kesemrawutan atau adanya kemerosotan kebudayaan pada zaman modern ini maka perenialisme memandang perlu kembali ke zaman dulu dimana prinsip atau nilai-nilai yang telah teruji dapat dikembangkan atau dapat menyelamatkan ketidakberesan pada zaman sekarang ini.
Perenialisme memandang pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
            Dengan kata lain pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau, karena dengan mengembalikan keadaan masa lampau ini, kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang.

Tokoh-tokoh Perenialisme
           
Perenialisme lahir akibat menentang aliran progresivisme. Tokoh-tokoh aliran perenialisme adalah sebagai berikut :
Aristoteles
            Aristoteles (384-322 SM) adalah murid Plato, namun dalam pemikirannya ia mereaksi terhadap filsafat gurunya, yaitu idealisme. Hasil pemikirannya disebut filsafat realisme. Ia mengajarkan cara berpikir atas prinsip realistis, yang lebih dekat pada alam kehidupan manusia sehari-hari. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan social. Sebagai makhluk rohani, manusia sadar ia akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia ideal. Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat mencapainya. Ia menganggap penting pula pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral. Aristoteles juga menganggap kebahagiaan sebagai tujuan dari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat, totalitas. Aspek-aspek jasmaniah, emosi, dan intelek sama dikembangkan, walaupun ia mengakui bahwa kebahagiaan tertinggi ialah kehidupan berpikir(2:317).
Plato
            Plato (427-347 SM), hidup pada zaman kebudayaan yang sarat dengan ketidakpastian, yaitu fisafat sofisme. Ukuran kebenaran dan ukuran moral menurut sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral dan kebenaran, tergantung pada masing-masing individu. Plato berpandangan bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah karena telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya. Menurut Plato, dunia ideal, yang bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Manusia menemukan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral dengan menggunakan akal atau ratio. Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat adil sejahtera. Manusia yang terbaik adalah manusia yang hidup atas dasar prinsip idea mutlak, yaitu suatu prinsip mutlak yang menjadi sumber realitas semesta dan hakikat kebenaran abadi yang transcendental yang membimbing manusia untuk menemukan criteria moral, politik, dan social serta keadilan. Ide mutlak adalah Tuhan.

Thomas Aquinas
            Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugas untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata. Menurut J.Maritain, norma fundamental pendidikan adalah :
• Cinta kebenaran
• Cinta kebaikan dan keadilan
• Kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi
• Cinta kerjasama
            Kaum perenialis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakikat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah selam berabad-abad : jadi, gagasan-gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di setiap zaman. Selain itu, filsafat perenialis menekankan kemampuan-kemampuan berpikir rasional manusia sehingga membedakan mereka dengan binatang-binatang lain

Pandangan Perenialisme terhadap Pendidikan
           
Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Sehingga pendidikan menurut perenialisme sangatlah penting untuk bekal manusia sepanjang hayat atau persiapan untuk hidup. Pandangan perenialisme terhadap pendidikan adalah kembali ke masa lalu atau klasik. Menurut Hutchins (1953) sekalipun terdapat perbedaan lingkungan namun sifat hakiki manusia selalu sama sehingga semua orang memerlukan pendidikan yang sama (dalam Tim FIP UPIAli, Mohamad: 2007).Dengan kata lain bahwa system atau tujuan pendidikan untuk semua warga adalah relative sama. Yaitu untuk “meningkatkan harkat manusia sebagai manusia”
Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, orang akan mampu mengenal faktor-faktor dan akan memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk mengadakan penyelesaian masalahnya. Dengan demikian anak didik akan mempunyai dua keuntungan dalam belajar, yakni: Satu anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar. Dua mereka akan memikirkan peristiwa penting dan karya¬-karya para tokoh tersebut untuk diri sendiri dan sebagai reverensi zaman sekarang.
Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buah pikiran para ahli tersebut pada masa lampau, maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli terse¬but dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri, dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat pereni¬alisme tersebut.
Tugas utama pendidikan adalah mencerdaskan anak didik . Salah satu untuk mencerdaskan anak didik adalah dengan mempersiapkan diri anak mulai dasar. Persiapan dasar ini diperoleh dari pengetahuan tradisional seperti membaca, menulis dan berhitung.
Di samping mendapatkan pengetahuan dasar, anak didik juga diharapkan memiliki etika atau moral atau budi pekerti yang mulia yang sesuai dengan agama atau kepercayaan masing-masing. Dimana setiap agama akan memerintahkan hidup mulia, hidup dengan berprilaku baik terhadap sesama, masyarakat, guru maupun orang tua. Akan tetapi dewasa ini telah terjadi krisis moral yang luar biasa yang menyebabkan anak didik berjalan semaunya sendiri tanpa melihat dasar-dasar atau prinsip-prinsip moral yang berlandaskan ajaran agama masing-masing. Dengan melihat kondisi ini maka kita perlu belajar ke masa lalu dimana para anak didik dengan hormatnya dan penuh rasa tanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing. Prinsip inilah yang diinginkan oleh perenialisme.

Pandangan Ontologi Perenialisme
Ontologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individual, esensi, aksiden dan substansi. Perennialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini. Benda individual disini adalah benda sebagaimana nampak diha¬dapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera seperti batu, rumput, orang dalam bentuk ukuran, warna dan aktifitas tertentu.
Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. Adapun aksiden adalah keadaan-keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial, sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu.
Jadi segala yang ada di alam semesta ini seperti halnya manusia, batu bangunan dasar, hewan, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya mem¬pakan hal yang logis dalam karakternya. Setiap sesuatu yang ada, tidak hanya merupakan kambinasi antara zat atau benda tapi merupakan unsure potensialitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas.
Jadi dengan demikian bahwa segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi, bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu adalah tensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan, tidak jarang pula dimilikinya akal, perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu sendiri dan merupakan tujuan akhir.

Pandangan Epistemologis Perenialisme
Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian dan daya pikir dengan benda-benda. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah perhatian mengenai esensi dari sesuatu. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. Jelaslah bahwa penge¬tahuan itu inerupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen.
Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas, relatif atau kebenaran probability. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis, kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal, hakiki dan berjalan dengan hukum-hukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama, bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi

Pandangan Aksiologi Perenialisme
Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural, yakni menerima universal yang abadi. Dengan azas seperti itu, tidak hanya ontologi dan epistemologi yang didasarkan atas prinsip teologi dan supernatural, melainkan juga aksiologi. Khususnya dalam tingkah laku manusia, maka manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya, di samping itu adapula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik.
Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme, karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang abadi, khususnya tingkah laku manusia. Jadi hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah pada jiwanya. Oleh karena itulah hakekat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya, dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. Dalam aksiologi, prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku. Secara etika, tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang manusia, karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan.
Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya, seperti Plato, Aristoteles dan Thomas Aquinas. Menurut Plato, manusia secara kodrat memiliki tiga potensi yaitu nafsu, kemauan dan pikiran, Pendidikan hendaknya berorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat, agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan, Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah “kebahagiaan”. Untuk mencapai pendidikan itu, maka aspek jasmani, emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang.
Menurut perenialisme, pendidikan moral sekarang ini telah mengalami krisis yang luar biasa. Anak-anak sudah tidak ada lagi rasa takut terhadap guru maupun orang tua.kekerasan, kemalasan maupun sikap yang ingin serba instan telah mengalir dalam darah anak-anak sekarang ini. Dengan perenialisme yang kembali ke tradisional ingin menciptakan kembali rasa hormat, rasa segan baik pada guru, orang tua, maupun masyarakat sekitar. Sehingga moral atau budi pekerti anak didik akan tertata dengan baik.

Beberapa Pemikiran Filsafat Thomas Aquinas

1. Thomisme

Thomisme adalah pemikiran filsafat yang dikemukakan oleh Aquinas.

Sebagaimana umumnya ajaran Skolastik, Thomas Aquinas berusaha dengan

sungguh-sungguh untuk mendamaikan pemikiran filsafat yang sekuler dari

Yunani dengan agama Nasrani yang dianutnya. Oleh Thomas dibedakan dua

tingkat pengetahuan manusia. Pengetahuan tentang alam yang dikenal melalui

akal dan pengetahuan tentang rahasia Tuhan yang diterima oleh manusia lewat

wahyu atau kitab suci.

Pengertian-pengertian metafisis sebagian besar dipinjam dari Aristoteles.

Misalnya pengertian materi dan bentuk, potensi dan aktus, bakat dan

perealisasian. Pengertian-pengertian metafisis sebagian besar dipinjamnya dari

Aristoteles, seperti: pengertian materi dan bentuk, potensi dan aktus, bakat dan

perealisasian. Materi adalah asal muasal munculnya sesuatu. Atau dapat juga

disebut subyek pertama sebagai asal munculnya sesuatu. Bentuk terkandung

dalam materi, umpamanya asal muasal buah mangga: Buah Mangga berasal dari

biji mangga, lalu menjadi pohon mangga. Biji mangga adalah materinya atau

potensinya, sedang pohon mangga yang telah tumbuh itu adalah bentuknya, atau

aktusnya. Pada pohon mangga itu kita mengamati bahwa yang telah terkandung di

dalam biji sebagai materi telah direalisasikan sepenuhnya.

Pembedaan antara materi dan bentuk ini hanya terjadi pada benda-benda

dalam kenyataan, tidak pada pengertian tentang Allah. Thomas memakai

pengertian essentia (hakekat) dan existentia (eksistensi) bagi Allah.6

2. Essentia dan Existentia

Ajaran Thomas Aquinas yang terkenal diantaranya tentang essentia dan

existentia, yang dikaitkannya dengan Tuhan. Tuhan adalah aktus yang paling

6Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hlm. 106

5

umum, actus purus (aktus murni), artinya Tuhan sempurna keberadaannya, tidak

berkembang, karena pada Tuhan tiada potensi. Di dalam Tuhan segala sesuatu

telah sampai pada perealisasiannya yang sempurna. Tuhan adalah aktualitas

semata-mata, oleh karena itu pada Tuhan hakikat (essentia) dan keberadaan

(existentia) ada sama dan satu (identik). Hal ini tidak berlaku bagi makhluk.

Keberadaan makhluk adalah sesuatu yang ditambahkan pada hakikatnya.7

Filsafat Thomas erat kaitannya dengan teologia. Sekalipun demikian pada

dasarnya filsafatnya dapat dipandang sebagai suatu filsafat kodrati yang murni.,

sebab ia tahu benar akan tuntuan penelitian kebenaran, dan secara jujur mengakui

bahwa pengetahuan insani dapat diandalkan juga. Dia membela hak-hak akal dan

mempertahankan kebebasan akal dalam bidangnya sendiri. Wahyu menurutnya

berwibawa juga dalam bidangnya sendiri. Disamping memberi kebenaran

alamiah, wahyu juga memberi kebenaran yang adikodrati, memberi misteri atau

hal-hal yang bersifat rahasia, seperti: kebenaran tentang trinitas, inkarnasi,

sakramen dll. Untuk ini diperlukan iman. Iman adalah suatu cara tertentu guna

mencapai pengetahuan, yaitu pengetahuan yang mengatasi akal, pengetahuan

yang tidak dapat ditembus akal. Iman adalah suatu penerimaan atas dasar wibawa

Allah. Sekalipun misteri mengatasi akal, namun tidak bertentangan dengan akal,

tidak anti akal. Sekalipun akal tidak dapat menemukan misteri, akan tetapi akal

dapat meratakan jalan menuju kepada misteri (prae ambula fidei). Dengan

demikian, Thomas Aquinas menyimpulkan bahwa ada dua macam pengetahuan

yang tidak saling bertentangan, tetapi berdiri sendiri-sendiri secara berdampingan,

yaitu: pengetahuan alamiah, yang berpangkal pada akal yang terang serta

memiliki hal-hal yang bersifat insani umum sebagai sasarannya, dan pengetahuan

iman, yang berpangkal dari wahyu dan memiliki kebenaran ilahi, yang ada di

dalam Kitab Suci, sebagai sasarannya.

Perbedaan antara pengetahuan yang diperoleh melalui akal dan

pengetahuan iman itu menentukan hubungan antara filsafat dan teologia. Filsafat

bekerja atas dasar terang yang bersifat alamiah semata-mata, yang datang dari

7Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran Dalam Filsafat, Yogyakarta: 1988, hlm. 96

6

akal manusia. Oleh karena itu filsafat adalah ilmu pengetahuan insani yang

bersifat umum, yang hasil pemikirannya diterima oleh tiap orang yang berakal.

Akal membimbing manusia untuk mengenal kebenaran di kawasan alamiah,

sehingga manusia dapat naik dari hal-hal yang bersifat inderawi ke hal-hal yang

bersifat non-inderawi, naik dari hal-hal yang bersifat rohani, dari hal-hal yang

serba terbatas ke hal-hal yang tidak terbatas. Teologia sebaliknya memerlukan

wahyu, yang memberikan kebenaran-kebenaran yang mengatasi segala yang

bersifat alamiah karena teologia memiliki kebenaran-kebenaran ilahi sebagai

sasarannya. Kebenaran-kebenaran ilahi hanya bisa diperoleh melalui wahyu, yang

ditulis di dalam Kitab suci.

Sekalipun demikian, ada bidang-bidang yang dimiliki bersama, baik oleh

filsafat maupun oleh teologia. Umpamanya pengetahuan tentang Allah dan Jiwa.

Baik filsafat maupun teologia keduanya dapat mengadakan penelitian sesuai

dengan kecakapan masing-masing. Sebaliknya, ada bidang-bidang yang

samasekali berada di luar jangkauan masing-masing, umpamanya: filsafat hanya

dapat menjangkau hal-hal di kawasan alam, sedangkan misteri berada di luar

jangkauannya, karena misteri hanya dapat di dekati dengan iman. Dengan

demikian, hubungan antara filsafat dan teologia menurut Thomas, filsafat dan

teologia adalah laksana dua lingkaran, meskipun yang satu berada di luar yang

lain, namun bagian tepinya ada yang bersentuhan. Disini terlihat bahwa Thomas

Aquinas mempersatukan unsur-unsur pemikiran Augustinus-Neoplatonisme

dengan unsur-unsur pemikiran Aristoteles, sedemikian rupa sehingga menjadi

suatu sintesa yang belum pernah ada.

Menurut Thomas, Allah adalah aktus yang paling umum, aktus purus

(aktus murni), artinya keberadaan Allah sempurna, tidak ada perkembangan pada-

Nya, karena pada-Nya tidak ada potensi. Di dalam Allah segala sesuatu telah

sampai kepada perealisasiannya yang sempurna. Allah itu mutlak, bukan yang

“mungkin”. Allah adalah aktualitas semata-mata. Oleh karena itu, pada Allah

terdapat hakekat (essentia) dan eksistensi (existentia), eksistensi Allah tidak

ditambahka pada hakekat, karena pada Allah hakikat dan eksistensi itu identik,

7

tidak terpisah. Hal ini tidak terjadi pada makhluk. Eksistensi atau keberadaan

makhluk adalah sesuatu yang ditambahkan kepada hakekatnya (essentia). Pada

makhluk hubungan antara hakekat dan eksistensi seperti materi dan bentuk, atau

seperti potensi dan aktus, atau seperti bakat dan perealisasiannya. Pada Allah tiada

sesuatu pun yang berada sebagai potensi yang belum menjadi aktus.8

3. Argumen kosmologi

Thomas juga mengajarkan apa yang disebut theologia naturalis, yang

mengajarkan bahwa manusia dengan pertolongan akalnya dapat mengenal Allah,

meskipun pengetahuan tentang Allah yang diperolehnya dengan akal itu tidak

jelas dan tidak menyelamatkan. Melalui akalnya manusia dapat mengetahui

bahwa Allah ada, dan juga tahu beberapa sifat Allah. Dengan akalnya manusia

dapat mengenal Allah, setelah ia mengemukakan pertanyaan-pertanyaan

mengenai dunia, alam semesta dan makhluk-Nya. Thomas berpendapat, bahwa

pembuktian tentang adanya Allah hanya dapat dilakukan secara a posteriori.

Dalam hal ini Thomas memberikan 5 bukti, yaitu:

1. Adanya gerak di dunia mengharuskan kita menerima bahwa ada

Penggerak Pertama, yaitu Allah. Menurut Thomas, apa yang bergerak

tentu digerakkan oleh sesuatu yang lain. Seandainya sesuatu yang

digerakkan itu menggerakkan dirinya sendiri, maka yang menggerakkan

diri sendiri itu harus juga digerakkan oleh sesuatu yang lain, sedang yang

menggerakkan ini juga harus digerakkan oleh sesuatu yang lain lagi.

Gerak menggerakkan ini tidak dapat berjalan tanpa batas. Maka harus ada

penggerak pertama. Penggerak Pertama ini adalah Allah.

2. Di dalam dunia yang diamati ini terdapat suatu tertib sebab-sebab yang

membawa hasil atau yang berdayaguna. Tidak pernah ada sesuatu yang

diamati yang menjadi sebab yang menghasilkan dirinya sendiri. Karena

sekiranya ada, hal yang menghasilkan dirinya itu tentu harus mendahului

dirinya sendiri. Hal ini tidak mungkin, sebab yang berdaya guna, yang

8 Jhon E. Smith, The Analogy of Experience, (New York: Harper & Row,1973, hlm. 5

8

menghasilkan sesuatu yang lain itu, juga tidak dapat ditarik hingga tiada

batasnya. Oleh karena itu, harus ada sebab berdayaguna yang pertama.

Inilah Allah.

3. Di dalam alam semesta terdapat hal-hal yang mungkin “ada” dan “tidak

ada”. Oleh karena itu semuanya itu tidak berada sendiri, tetapi diadakan,

dan oleh karena itu semuanya itu juga dapat rusak, maka ada kemungkinan

semuanya itu “ada”, atau semuanya itu “tidak ada”. Tentu tidak mungkin

semuanya itu senantiasa “ada”. Sebab apa yang mungkin “tidak ada” pada

suatu waktu memang tidak ada. Karena segala sesuatu memang mungkin

“tidak ada”, maka pada suatu waktu mungkin saja tidak ada sesuatu.

Jikalau pengandaian ini benar, maka sekarang juga mungkin tidak ada

sesuatu. Padahal apa yang tidak ada hanya dapat dimulai berada jikalau

diadakan oleh sesuatu yang telah ada. Jikalau segala sesuatu hanya

mewujudkan kemungkinan saja, tentu harus ada sesuatu yang “adanya”

mewujudkan suatu keharusan. Padahal sesuatu yang adanya adalah suatu

keharusan, “adanya” itu dapat disebabkan oleh sesuatu yang lain, atau

berada sendiri. Seandainya sesuatu yang adanya adalah suatu keharusan

disebabkan oleh sesuatu yang lain, sebab-sebab itu tak mungkin ditarik

hingga tiada batasnya. Oleh karena itu, harus ada sesuatu yang perlu

mutlak, yang tak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Inilah Allah.

4. Diantara segala yang ada terdapat hal-hal yang lebih atau kurang baik,

lebih atau kurang benar, dan lain sebagainya. Apa yang disebut kurang

baik, atau lebih baik, itu tentu disesuaikan dengan sesuatu yang

menyerupainya, yang dipakai sebagai ukuran. Apa yang lebih baik adalah

apa yang lebih mendekati apa yang terbaik. Jadi, jikalau ada yang kurang

baik, yang baik dan yang lebih baik, semuanya mengharuskan adanya

yang terbaik. Demikian juga halnya dengan yang kurang benar, yang benar

dan yang lebih benar dan lain sebagainya. Dari ini semua dapat

disimpulkan, bahwa harus ada sesuatu yang menjadi sebab dari segala

yang baik, segala yang benar, segala yang mulia, dan sebagainya. Yang

menyebabkan semuanya itu adalah Allah.

9

5. Segala sesuatu yang tidak berakal, misalnya: tubuh alamiah, berbuat

menuju kepada tujuannya. Hal ini tampak dari caranya segala sesuatu yang

tidak berakal tadi berbuat, yaitu senantiasa dengan cara yang sama untuk

mencapai hasil yang terbaik. Dari situ terlihat bahwa perbuatan tubuh

bukanlah perbuatan kebetulan, semuanya diatur oleh suatu kekuatan,

semuanya itu menuju pada “akhir”. Jika tidak diarahkan oleh suatu “tokoh

yang berakal”, maka semua perbuatan tubuh tidak mungkin memperoleh

ilmu pengetahuan. Kekuatan yang mengarahkan itu adalah Allah.9

Bukti-bukti di atas memang dapat menunjukkan bahwa ada pencipta yang

menyebabkan adanya segala sesuatu. Pencipta yang berada karena diri-Nya

sendiri. Akan tetapi semuanya itu tidak dapat secara riil dapat membuktikan

kepada kita mengenai hakekat Allah. Melalui bukti-bukti penciptaan-Nya kita

mengetahui, bahwa Allah itu ada.

Bukti-bukti yang dikemukakan Thomas didasarkan atas premis yang sama.

Argumen kosmologi sering juga dinamakan argumen sebab pertama. Ia adalah

suatu argumen deduktif yang mengatakan bahwa apa saja yang terjadi mesti

mempunyai sebab, dan sebab itu juga mempunyai sebab dan seterusnya.

Rangkaian sebab-sebab mungkin tanpa ujung atau mempunyai titik permulaan

dalam sebabnya yang pertama. Aquinas mengeluarkan kemungkinan adanya

rangkaian sebab pertama yang kita namakan Tuhan.

Bagi Thomas, argumen kosmologi tentang eksistensi Tuhan adalah sesuatu

yang penting. Menurutnya, sebagai makhluk yang berakal, kita harus

membedakan antara ciri-ciri yang aksidental dan ciri-ciri yang esensial tentang

realitas, atau antara objek-objek yang bersifat sementara dan objek-objek yang

bersifat permanen. Tiap-tiap kejadian antara perubahan memerlukan suatu sebab,

dan menurut logika, kita harus kembali ke belakang, kepada sebab yang berada

sendiri, tanpa sebab atau kepada Tuhan yang berdiri sendiri. Oleh sebab itu,

Tuhan bersifat imanen dalam alam, ia prinsip pembentuk alam. Tuhan adalah

9Harun Hadiwiono, op.Cit, hlm. 108

10

syarat bagi perkembangan alam yang teratur serta sumber dan dasarnya yang

permanen.10

Sekalipun demikian dapat juga dikatakan bahwa orang memang dapat

memiliki beberapa pengetahuan filsafati tentang Allah. Di sini Thomas mengikuti

ajaran Dionisios dari Areopagos, akan tetapi ajaran Neoplatonisme itu dirobah,

disesuaikan denga teori pengenalannya yang berdasarkan ajaran Aristoteles.

Melalui akal, ada 3 (tiga) cara manusia dapat mengenal Allah, yaitu:

1. Segala makhluk sekedar mendapat bagian dari keadaan Allah. Hal ini

mengakibatkan bahwa segala yang secara positif baik pada para

makhluk dapat dikenakan juga kepada Allah (via positiva).

2. Sebaliknya juga dapat dikatakan, karena adanya analogi keadaan,

bahwa segala yang ada pada makhluk tentu tidak ada pada Allah

dengan cara yang sama (via negativa).

3. Jadi, apa yang baik pada makhluk tentu berada pada Allah dengan cara

yang jauh melebihi keadaan pada para makhluk itu (via iminentiae).11

4. Penciptaan

Pemikiran filsafat Thomas tentang penciptaan juga suatu pemikiran yang

penting. Pemikirannya tersebut pada dasarnya adalah ajaran Augustinus-

Neoplatonisme, yaitu ajaran tentang partisipasi. Segala makhluk berpartisipasi

dalam keadaan Allah, atau mendapat bagian dari “ada” Allah. Hal ini disebabkan

bukan karena emanasi seperti yang diajarkan Neoplatonisme, melainkan karena

karya penciptaan Allah. Allah menciptakan dari “yang tidak ada” (ex nihilo).

Sebelum dunia diciptakan tidak ada apa-apa, sehingga juga tidak ada dualisme

yang asasi antara Allah dan benda, antara yang baik dan yang jahat. Segala

sesuatu dihasilkan Allah dengan penciptaan. Oleh karena itu, segala sesuatu

berpartisipasi atau mendapat bagian dari kebaikan Allah, sekalipun cara makhluk

memiliki kebaikan itu berbeda dengan cara Allah.12

10Titus, Nolan, smith, op.Cit, hlm. 454

11 Harun Hadiwijono, loc.Cit.

12K.Bertens, op. Cit, hlm. 36

11

Selanjutnya harus diperhatikan bahwa menurut Thomas penciptaan

bukanlah suatu perbuatan pada suatu saat tertentu, dan setelah itu dunia dibiarkan

pada nasibnya sendiri. Penciptaan adalah suatu perbuatan Allah yang terus

menerus, melalui penciptaan itu Allah terus menerus menghasilkan dan

memelihara segala yang bersifat sementara. Dengan demikian, dari kekekalan

Allah menciptakan jagat raya dan waktu. Segala sesuatu diciptakan sesuai dengan

bentuknya atau ideanya yang berada di dalam roh Allah. Idea-idea itu bukan

berada di luar Allah, akan tetapi identik dengan Dia, satu dengan hakekat-Nya. Ini

berarti bahwa dunia ada awalnya. Pemikirannya ini jelas sekali pengaruh

pemikiran Neo-Platonisme dan Al-Farabi dengan filsafat emanasinya.13

Dikarenakan jagad raya diciptakan Allah, maka jagad raya bukan Allah,

meskipun memang mendapat bagian dari “ada” Allah. Partisipasi ini bukan secara

kuantitatif, artinya: bukan seolah-olah tiap makhluk mewakili sebagian kecil

tabiat ilahi. Bahwa makhluk berpartisipasi dengan Allah berarti ada sekedar

analogia, sekedar kesamaan atau kiasan antara Allah dan makhluk-Nya. Allah

memberikan kebaikan-Nya juga kepada makhluk-Nya. Analogi atau kesamaan ini

bukan hanya menunjuk kepada kesamaannya, tetapi juga kepada perbedaannya,

artinya: sekalipun ada kesamaan, tetapi ada juga perbedaanya dalam cara

beradanya. Analogia ini bukan mengenai perkara-perkara yang sampingan, akan

tetapi mengenai perkara yang paling hakiki, yaitu mengenai “ada”nya Allah dan

“ada”nya makhluk (analogia entis). Analogia ini di satu pihak menunjuk kepada

adanya jarak yang tak terhingga antara Allah dan makhluk, tetapi di lain pihak

para makhluk itu sekedar menampakkan kesamaannya juga dengan Allah.

5. Makhluk Murni

Menurut Thomas Aquinas, makhluk-makhluk rohani dalam arti yang

murni (yaitu para malaikat) juga tersusun dari hakekat dan eksistensi, sekalipun

mengenai malakat dapat juga dibicarakan hal “bentuk”. Para malaikat memiliki

hakekat (essentia) roh dan mereka bereksistensi. Pada malaikat tidak terdapat

13Lihat: Hasyimsah Nasution, MA, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005),

hlm. 35-38. Lihat Juga Poerwantana et.al., Seluk Beluk Filsafat Islam, (Bandung: Remaja

Rosdakarya, 1991), hlm. 135-138

12

susunan materi dan bentuk, potensi dan aktus. Hal ini dikarenakan potensi para

malaikat tiada potensi yang harus berkembang. Oleh karena itu, diantara para

malaikat tiada individuasi dalam satu jenis. Tiap malaikat adalah jenisnya sendiri.

Baru pada makhluk-makhluk yang berjasad (benda-benda mati, tumbuhtumbuhan,

binatang dan manusia) ada 2 macam susunan, yaitu hakikat dan

eksistensi (essentia dan existentia), sebagai tanda pengenal makhluk, materi dan

bentuk, atau potensi dan aktus. Dan sebagai tanda pengenal segala yang berjasad,

yang bendani. 14

6. Jiwa

Manusia adalah suatu kesatuan yang berdiri sendiri, yang terdiri dari

bentuk (jiwanya) dan materi (tubuhnya). Dikarenakan hubungan antara jiwa dan

tubuh sebagai bentuk dan materi atau sebagai aktus dan potensi atau bisa juga

dikatakan sebagai perealisasian dari bakat. Jiwa bukanlah sesuatu yang berdiri

sendiri seperti yang diajarkan oleh Plato. Terhadap tubuh, jiwa merupakan bentuk

atau aktus atau perealisasiannya, karena jiwa adalah daya gerak yang menjadikan

tubuh sebagai materi, atau sebagai potensi, menjadi realitas. Jiwalah yang

memberikan perwujudan kepada tubuh sebagai materi. Dengan demikian,

praeksistensi ditolak oleh Thomas. Akan tetapi jiwa dianggap tidak dapat binasa

bersamaan dengan tubuh, jiwa tidak dapat mati.

Bagi Thomas, tiap perbuatan (juga berpikir dan berkehendak) adalah suatu

perbuatan segenap pribadi manusia, perbuatan “aku”, yaitu jiwa dan tubuh sebagai

kesatuan. Jadi bukan akalku berpikir, atau mataku melihat dsb, akan tetapi aku

berpikir, aku melihat, dsb. Kesatuan manusia ini mengandaikan bahwa tubuh

manusia hanya dijiwai oleh satu bentuk saja, bentuk rohani, yang sekaligus juga

membentuk hidup lahiriah dan batiniah. Jadi, jiwa adalah bersatu dengan tubuh

dan menjiwai tubuh.

Jiwa memiliki 5 daya, yaitu:

1. Daya jiwa vegetatif, yaitu yang bersangkutan dengan pergantian zat dan

dengan pembiakan.

2. Daya jiwa yang sensitif, daya jiwani yang berkaitan dengan keinginan

14Harun Hadiwijono, op.cit., hlm. 106

13

3. Daya jiwa yang menggerakkan

4. Daya jiwa untuk memikir

5. Daya jiwa untuk mengenal

Daya untuk memikir dan mengenal terdiri dari akal dan kehendak. Akal

adalah daya yang tertinggi dan termulia, yang lebih penting daripada kehendak,

karena yang benar adalah lebih tinggi daripada yang baik. Mengenal adalah suatu

perbuatan yang lebih sempurna daripada menghendaki.15

Pandangan Thomas tentang pengenalan berkaitan erat dengan

pandangannya tentang hubungan antara jiwa dan tubuh. Pada dirinya jiwa bersifat

pasif, baik dalam pengenalan inderawi maupun dalam pengenalan akali. Dayadaya

penginderaan (tenaga untuk melihat, mendengar, dll) ditentukan oleh bendabenda

yang ada di luar. Yang menjadi pelaku atau subyek dalam pengenalan

adalah kesatuan jiwa dan tubuh yang berdiri sendiri. Akal pada dirinya hanyalah

seperti sehelai kertas yang belum ditulis, yang tidak memiliki idea-idea sebagai

bawaannya dan tidak menghasilkan sasaran pengenalannya. Akal hanya menerima

sasaran pengenalannyan dari luar. Oleh karena itu, pengenalan akali atau

pengenalan yang diperoleh dengan akal, menurut isinya, seluruhnya tergantung

kepada indera. Pengenalan berpangkal dari pengalaman. Adapun yang menjadi

sasaran akal adalah hakekat benda-benda berjasad. Indera memberikan gambarangambaran

dari sasaran yang diamati. Gambaran-gambaran itu secara potensial

memiliki hakekat benda yang diamati. Dengan abstraksi jiwa menarik hakikat

benda-benda yang diamati tadi dari gambaran-gambaran yang diberikan oleh

pengamatan inderawi. Hakekat itu dirobah menjadi suatu bentuk yang dapat

dikenal. Pengetahuan terjadi kalau akal telah mengambil bentuk itu dan

mengungkapkannya. Jadi, di dalam pengenalan akal tergantung kepada bendabenda

yang diamati indera.

Dalam pengenalan akali ini tidak diperlukan penerangan khusus dari

Allah, karena yang dimiliki akal sudah cukup untuk dijadikan alat guna

mendapatkan pengetahuan dan memberi jaminan subjektif bagi kepastian

15Ibid., hlm. 111. Bandingkan dengan Filsafat al-Farabi tentang Jiwa. Lihat: Hasyimsah

Nasution, filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hlm. 39-40

14

pengetahuan itu. Mengenai jaminan kepastian yang bersifat objektif dikatakan,

bahwa hal itu tergantung dari hakikat obyek yang dikenal itu sendiri, artinya:

tergantung dari idea ilahi sendiri.16

6. Etika Teologis

Etika Aquinas disesuaikan dengan ajarannya tentang manusia. Moral, baik

yang berlaku bagi perorangan, maupun yang berlaku bagi masyarakat, diturunkan

dari cahaya manusia diciptakan oleh Allah, atau diturunkan dari tabiat manusia.

Hal ini dikarenakan manusia menurut tabiatnya, adalah makhluk sosial.

Dalam menguraikan etika, Thomas tidak memakai metode deduksi

sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang sezamannya. Dia menggunakan

metode induktif, yaitu dengan menyesuaikan etikanya dengan kenyataan hidup.

Etika Thomas aquinas berkaitan dengan iman kepercayaan kepada Allah pencipta.

Dalam arti ini, etika Aquinas memiliki unsur teologis. Namun, unsur itu tidak

menghilangkan cirinya yang khas filosofis bahwa etika itu memungkinkan orang

menemukan garis hidup yang masuk akal.

Tujuan terakhir hidup perorangan adalah memandang Allah. Berdasarkan

tujuan terakhir hidup manusia ini, hidup perorangan diarahkan ke situ, dan seluruh

masyarakat harus diatur sesuai dengan tuntutan tabiat manusia. Dengan demikian

seluruh masyarakat akan membantu orang menaklukkan nafsu-nafsunya kepada

akal dan kehendak.

Menurut Aquinas, sebenarnya segala nafsu baik. Akan tetapi, nafsu-nafsu

itu dapat menjadi jahat ketika nafsu-nafsu itu melanggar kawasan masing-masing

dan tidak mendukung akal dan kehendak. Jika demikian, nafsu-nafsu itu lalu

menyimpang dari arahnya yang asasi. Jadi, sebenarnya arah perbuatan kesusilaan

bukanlah untuk mematikan nafsu, tetapi untuk mengaturnya, sehingga nafsu-nafsu

itu turut membantu manusia dalam upaya merealisasikan tugas terakhir hidupnya.

Tentu saja tetap masih ada kemungkinan terjadinya hal-hal yang jahat.

Bagaimanapun kejahatan tidak berada sebagai kekuatan yang berdiri sendiri, tidak

diciptakan Allah. Kejahatan berada dimana tiada kebaikan.

16 Edmunt W. Sinnot, The Biology of Spirit, (New York: Viking, 1955), Matter, Mind and

Man: The Biology of Human Nature (New York: Harper, 1957), lihat juga tulisan R.G. Swinburne,

“The Argument from Design, “Philosophy 43 “ (July, 1968), hlm. 199-212

15

Akal merupakan norma perbuatan manusia. Oleh sebab itu, kebaikan

merupakan perbuatan yang telah dipertimbangkan melalui akal. Akal adalah

pencerminan Akal Ilahi. Dari akal itu diturunkan kebajikan akali.

Didalam etika sosial diajarkan bahwa negara adalah bentuk hidup yang

tertinggi di kawasan segala sesuatu yang bersifat kodrati. Menurut tabiatnya

manusia dikaitkan dengan hidup bersama di dalam masyarakat dan negara.

Bentuk yang paling sederhana dari hidup bersama yang kodrati itu terdapat pada

keluarga. Oleh karena itu, keluarga menjadi sel organisme masyarakat.17

Keunggulan Etika Thomas dibandingkan dengan etika teolog lainnya

terlihat pada pandangannya etika peraturan. Kebanyakan etika yang mendasarkan

kewajiban moral manusia kepada kehendak Tuhan bersifat etika peraturan yang

diberikan Tuhan dan karena itu harus ditaati oleh manusia. Meskipun tidak salah,

pola etika peraturan itu tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa peraturan itu

diterapkan? Jadi, ada defisit dalam rasionalitas. Orang dewasa mau saja taat pada

peraturan, tetapi ia ingin tahu mengapa peraturan itu dibuat. Peraturan itu dibuat

oleh yang berwenang, tidaklah membuatnya rasional. Selain itu, etika peraturan

mereduksi sikap moral manusia pada pertanyaan ”boleh atau tidak boleh?”

pertanyaan itu tidak memberi ruang kepada salah satu faham moral yang paling

penting dan paling dibutuhkan pada zaman pasca tradisional, yaitu

tanggungjawab. Thomas mengatasi kelemahan itu, karena hukum abadi yang

diperintahkan oleh Tuhan adalah pengembangan dan penyempurnaan manusia

sendiri. Jadi, ada rasionalitas internal hidup menurut hukum kodrat, hanya

memenuhi perintah Tuhan yang memang sesuai dengan dinamika intenal manusia

sendiri. Dengan demikian, manusia menemukan diri menjadi nyata. Ketakwaan

dan kebijaksanaan menyatu takwa karena taat kepada Tuhan, bijaksana karena

memang demi keutuhan manusia sendiri. Taat kepada Allah secara intrinsik

menjadikan manusia bahagia karena dengan demikian ia menemukan

kesempurnaan. Berbeda dengan etika Kant yang mereduksi moralitas pada

kewajiban. Etika Thomas berkaitan dengan desakan dasar hati manusia ke arah

17Harun Hadiwijono, op. Cit., hlm. 112

16

kebahagiaan. Setiap orang ingin bahagia. Keinginan itu yang terlaksana melalui

etika hukum kodrat.

Dengan demikian, Thomas mempertahankan faham Yunani yang

mengatakan bahwa etika mengajarkan seni hidup. Seni hidup dalam arti bahwa

orang yang mengikuti tuntutan etika menjadi semakin pandai atau bijaksana

dalam cara mengurus gaya hidupnya dengan sedemikian rupa. Sehingga terasa

lebih berkualitas, bermakna dan lebih maju. Aspek inilah yang tidak ada pada pola

etika kewajiban sebagaimana dicanangkan oleh Kant. Thomas Aquinas tidak

memisahkan antara ketakwaan dan kebijaksanaan, begitu pula antara keutamaan

moral dan kebijaksanaan. Dalam kerangka teori hukum kodrat, orang bijaksana

akan hidup lebih baik, karena itulah yang paling membahagiakan dan memang

itulah yang dikehendaki Tuhan pencipta.

Filsafat Etika Thomas aquinas memiliki rasionalitas tinggi. Disamping itu

pula hukum kodrat mempunyai sifat yang universal karena meskipun acuan

kepada Allah pencipta bersifat teologis, dalam strukturnya sendiri etika ini tidak

berdasarkan iman kepercayaan atau agama tertentu. Etika hukum kodrat terbuka

bagi siapa saja mengembangkan potensi-potensinya, menyempurnakan diri secara

utuh, mengusahakan identitasnya, semua itu merupakan tujuan yang masuk akal.

Dalam hal ini Aristoteles menegaskan bahwa manusia bebas dalam

berbuat. Stoa mendahului Kant, menyatakan bahwa kualitas manusia akan moral

ditentukan oleh kehendaknya, bukan tindakan lahiriah yang menentukan orang

baik atau buruk dalam arti moral, melainkan sebagai ungkapan kehendak.18

Manusia itu baik apabila ia berkehendak baik, dan jahat bila berkehendak jahat.

Augustinus juga memiliki pandangan yang sama, demikian pula halnya dengan

Thomas Aquinas. Menurut Thomas, manusia memilih antara baik dan buruk.

Perbuatan baik mengarahkan kepada tujuan akhir. Perbuatan buruk akan

menjauhkan daripada-Nya. Kebebasan itu padanan dari akal budi. Sebagaimana

akal budi merupakan kemampuan kognitif manusia yang terbuka kepada yang tak

terhingga, begitu pula kehendak adalah dorongan manusia yang mengarah kepada

yang baik, yaitu nilai yang tak terhingga.

18K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hlm. 127

17

Thomas aquinas membedakan antara dua macam kegiatan manusia, yaitu

kegiatan manusiawi dan kegiatan manusia. Kegiatan manusia adalah segala

macam gerak, perkembangan dan perubahan pada manusia yang tidak disengaja,

yang murni vegetatif atau sensitif dan instingtif. Kegiatan ini di luar kuasa

manusia, tidak perlu dipertanggungjawabkan, itu berarti kegiatan pada manusia

itu tidak mempunyai kualitas moral mereka bukan baik atau buruk. Kegiatan

manusia justru tidak khas manusia, melainkan juga ada pada binatang dan

sebagian juga pada tumbuhan. Kegiatan yang khas bagi manusia disebut kegiatan

manusiawi, yaitu kegiatan sebagai manusia yang tidak ada organisme lain. Itulah

kegiatan yang disengaja, tindakan dalam arti yang sebenarnya. Tindakan itu

dikuasai. Berarti berlaku dengan bebas karena kita menentukan diri sendiri. Atas

tindakan tersebut, maka kita bertanggungjawab. Karena itu, tindakan menentukan

kualitas moral manusia. Tindakan baik, berarti manusia baik, tindakan buruk

berarti manusia jahat. Apakah manusia mendekati tujuan akhir atau tidak adalah

tanggungjawab manusia itu sendiri. Ia wajib bertindak ke arah yang baik dan tidak

bertindak ke arah yang jahat. Perintah moral paling dasar menurut Thomas

Aquinas adalah: “lakukanlah yang baik, jangan melakukan yang salah. Yang baik

adalah tujuan terakhir manusia, yang buruk adalah apa yang tidak sesuai.

Tindakan ini didahului oleh pengertian bahwa sesudah mengetahui yang baik, kita

wajib menghendaki melakukan. Begitu pula, kita wajib menghindari apa yang kita

ketahui sebagai yang jahat.19

Kemantapan dalam berbuat baik dan menolak yang jahat disebut

keutamaan. Aquinas mengambil faham keutamaan dari Aristoteles. Keutamaan

merupakan sikap hati yang sudah mantap, seakan-akan diandalkan. Sikap pada

kebiasaan hati itu terbentuk karena tindakan. Manusia diharapkan mengusahakan

keutamaan agar ia dengan mudah dapat bertindak sesuai dengan apa yang

disadarinya dengan baik, agar kehendak, bagian dari jiwa yang menuju baik

semakin terarah kepada apa yang diketahui dengan baik, yang sesuai dengan akal

budi. Sebagaimana bagi Aristoteles begitu juga bagi Thomas, keutamaan pada

umumnya merupakan sikap yang ditengah. Artinya keutamaan berada diantara

19Titus, et.al., op. Cit., hlm. 460

18

dua sikap yang ekstrim yang kedua-duanya buruk (kebijaksanaan, misalnya,

terletak diantara kebodohan dan sikap berhati-hati yang berlebihan).

Lex Aterna, Lex Naturalis dan Lex Humana: Filsafat Politik Thomas Aquinas

Pemikiran Thomas Aquinas tentang etika politik bisa dilihat pada

pendapatnya mengenai hukum. Menurutnya, hukum pada kodratnya sangat

memperhatikan keadilan pada masyarakatnya. Dalam negara hukum

konstitusional, keberadaannya diukur pada bagaimana Negara tersebut memberi

perlindungan kepada rakyat dan memperhatikan hak-hak asasi manusia. Dalam

kesepakatan etika politik modern dinyatakan bahwa kekuasaan politik

memerlukan legitimasi demokrasi dan dalam tuntutan bahwa negara dibebani

tanggungjawab untuk mewujudkan keadilan sosial.

Sumbangsih pemikirannya pada filsafat politik walaupun hanya

merupakan sebagian kecil dari seluruh tulisannya, tenyata sangat esensial pada

etika kekuasaan. Thomas membicarakan masalah etika politik dalam dua tulisan,

yaitu Summa Theologiae I dan dalam tulisan mungilnya De Regimine Principum

(tentang pemerintahan raja).20

Pada uraian pertama, Thomas membicarakan tiga macam hukum dan

hubungan yang terdapat diantara hukum-hukum ini, yang pertama adalah Lex

Aterna (Hukum Abadi) atau kebijakan Ilahi sendiri sejauh merupakan dasar

kodratnya, karena kodrat makhluk-makhluk mencerminkan kebijaksanaan yang

menciptakannya. Bahwa makhluk itu ada dan bahwa makhluk berbentuk atau

berkodrat sebagaimana adanya adalah karena itulah yang dikehendaki Sang

Pencipta. Kenyataan ini mempunyai akibat, bahwa kodratnya adalah normatif

bagi ciptaannya. Makhluk itu dengan sendirinya tumbuh, bergerak dan

berkembang menurut hukum alam. Tetapi lain halnya dengan manusia. Manusia

memiliki pengertian dan kemauan bebas dan oleh karena itu dapat menentukan

sendiri bagaimana ia mau bertindak. Dalam hal ini, baginya kodrat merupakan

hukum dalam arti yang sungguh-sungguh manusia hidup sesuai dengan

kodratnya. Hukum kodrat itulah dasar semua tuntutan moral. Dengan

menghubungkan hukum moral dengan hukum kodrat, Thomas mencapai dua hal

sekaligus, ia mendasarkan norma-norma moral pada wewenang mutlak Sang

Pencipta. Dan ia sekaligus menunjukkan rasionalitasnya. Rasionalitasnya

merupakan tuntutan-tuntutan moral yang terletak dalam kenyataan. Tuntutantuntutan

itu sesuai dan berdasarkan pada keperluan kodrat manusia. Thomas

dalam mengatasi irasionalisme sedemikian banyak etika religius yang

mempertanyakan norma-norma moral pada kehendak Tuhan, tanpa menjelaskan

mengapa Tuhan berkehendak demikian. Menurut kodratnya Tuhan menghendaki

agar manusia hidup sesuai dengan kodratnya, dan itu berarti, hidup sedemikian

rupa sehingga ia dapat berkembang. Dapat membangun dan menemukan

identitasnya, dapat menjadi bahagia. Dalam bahasa moral hukum kodrat menuntut

manusia agar hidup sesuai dengan martabatnya.21

Dengan demikian, Thomas Aquinas pada akar hukum moral menolak

segala paham kewajiban yang tidak dapat dilegitimasikan secara rasional, dari

kebutuhan manusia sendiri yang sebenarnya. Prinsip itu diterapkan dengan tegas

pada hukum buatan manusia, Lex Humana. Menurut Thomas, suatu hukum buatan

manusia berlaku apabila menurut dimensinya berdasarkan hukum kodrat isinya

harus sesuai dengan hukum kodrat dan pihak yang memasang hukum itu memiliki

wewenangnya berdasarkan hukum kodrat. Thomas Aquinas terlihat secara radikal

menolak kekuasaan sebagai dasar hukum. Suatu peraturan hanya bersifat hukum,

artinya hanya mengikat, apabila isinya dapat dilegitimasi secara rasional dari

hukum kodrat. Suatu “hukum” yang bertentangan dengan hukum kodrat, menurut

Thomas tidak memiliki status hukum, melainkan merupakan “Corruptio Legis

atau penghancuran hukum. Jadi, Thomas secara radikal menuntut legitimasi etis

penggunaan kekuasaan. Kekuasaan tidak dapat membenarkan dirinya sendiri.

Kekuasaan hanyalah suatu kenyataan fiksi dan sosial, tetapi tidak mencakup suatu

wewenang. Bagi Thomas tak ada satu orang pun yang secara asasi mempunyai

wewenang atas manusia lainnya, yang berwenang hanyalah satu yaitu Sang

21J.h. Cardinal Newman, A Grammar of Assent, C.F. Harold (ed.) (New York: David

McKay, 1947), hlm. 83-84

20

pencipta dan segenap wewenang atas manusia haruslah mendapat hak dan

wewenang yang pertama itu. Hukum kodrat adalah tolok ukur legitimasi segala

tindakan kekuasaan. Suatu ketentuan penguasa yang tidak sesuai dengan hukum

kodrat, tidak mengikat.

Filsafat politik Thomas Aquinas membuka fakta kekuasaan terhadap kritik

dan tuntutan pertanggungjawaban. Sekalipun dipastikan bahwa segenap

kekuasaan manusia terbatas sifatnya dan tidak pernah mutlak. Kekuasaan itu perlu

sejauh manusia sebagai makhluk berkodrat sosial, membutuhkan kesatuan

pimpinan agat ia dapat menjalankan kemanusiaanya secara utuh. Kekuasaan

adalah fungsional demi kesejahteraan masing-masing orang.

Mengenai pemerintahan kerajaan yang dia tujukan kepada Raja Hugo di

Cyprus, Thomas menjelaskan perbedaan antara pemerintahan yang sah dan

pemerintahan yang disebut despotik. Pemerintahan despotik adalah pemerintahan

yang hanya berdasarkan kekuasaan saja, sedangkan pemerintahan politik yang sah

harus sesuai dengan kodrat manusia sebagai orang yang bebas. Apabila kumpulan

orang-orang bebas dibimbing kearah kesejahteraan umum masyarakat, maka

pemerintahan seperti ini bisa dikatakan pemerintahan yang benar dan adil. Tetapi,

apabila pimpinan tidak mengusahakan kesejahteraan umum masyarakat, lebih

mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, maka ini pemerintahan yang tidak

adil dan bertentangan dengan kodrat. “Kekuasaan pada dasarnya hanya benar dan

baik sejauh berjalan dalam batas-batas yang sesuai dengan kodrat. Sedangkan

hukum sendiri harus menunjang tujuan negara, yaitu mengusahakan kemakmuran

bersama, bukan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Yang boleh disebut

raja bukanlah orang yang kebetulan duduk di atas tahta istana kerajaan, melainkan

seorang penguasa yang memerintah demi kesejahteraan umum masyarakat, bukan

demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Menurut Aquinas, tidak pernah seorang dengan sendirinya berhak

memerintah orang lain. Sebagai sesama ciptaan Tuhan tidak ada manusia yang

mengungguli manusia yang lain. Jika ada yang memerintah dan diperintah, maka

harus berdasarkan kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Fungsi suatu

pemerintahan memang diperlukan dalam rangka upaya mewujudkan kehidupan

21

yang sejahtera. Kepada siapa pemerintahan itu dipercayakan, masyarakatlah yang

berhak menentukan (rakyat, populus dalam bahasa Thomas Aquinas). Setiap raja

atau penguasa yang sah menduduki jabatannya berdasarkan pada suatu perjanjian

dengan rakyatnya. Dalam perjanjian itu rakyat disatu pihak, berjanji akan taat

kepada raja. Dan dipihak lain, raja berjanji akan mempergunakan kekuasaannya

demi tujuan yang sebenarnya, yaitu untuk mengusahakan kepentingan rakyat atau

kesejahteraan umum. Apabila raja menyalahgunakan kekuasaannya demi

kepentingan sendiri, berarti dia melanggar perjanjian. Dengan demikian,

perjanjian ini tidak berlaku lagi.

Untuk mencegah timbulnya Tirani dalam kekuasaan, maka hendaknya

diatur sedemikian rupa sehingga raja tidak memiliki kesempatan untuk

mendirikan pemerintahan yang despotik.22 Sebagai seorang yang sangat religius

Thomas berpesan, manusia tidak berhak menyombongkan diri dihadapan Tuhan

dan manusia. Meskipun mereka sedang menduduki jabatan sebagai penguasa.

Kekuasaan merupakan titipan masyarakat agar tercipta keharmonisan dalam hidup

bernegara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Flickr Photos

More Photos

Arsip

April 2010
S S R K J S M
    Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

sofiainurtikkichan

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: